Insiden kecelakaan yang melibatkan dua bus Transjakarta di jalur layang Koridor 13 ruas Swadarma arah Cipulir, Jakarta Selatan, pada Senin (23/2) pagi, diduga kuat dipicu faktor kelelahan pengemudi. Peristiwa tersebut terjadi saat bus operator BMP 220263 tengah melayani rute dari Tegal Mampang menuju JORR. Dalam perjalanan, bus diduga hilang kendali dan masuk ke lajur berlawanan hingga bertabrakan dengan bus MYS 17100. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan bahwa berdasarkan laporan yang diterimanya, pengemudi bus operator BMP 220263 mengantuk sehingga menyebabkan kendaraan keluar jalur. Bus Transjakarta melintas di jalan layang khusus bus Koridor 13 di kawasan Cipulir, Jakarta, Rabu (5/6/2024). Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, penumpang Transjakarta sepanjang bulan Mei 2024 kembali mengalami kenaikan yakni lebih dari 29 juta penumpang dibanding bulan April 2024 sebanyak 26 juta lebih penumpang. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/aww. "Akibat itu kemudian ada bus MYS 17100 terjadi tabrakan, yang luka dalam kejadian tersebut adalah 23," ujar Pramono, dalam keterangan tertulis, Senin (23/2/2026). Menurut Pramono, meskipun sistem manajemen operasional Transjakarta telah tertata dengan baik, faktor kelelahan fisik atau human error tetap bisa menjadi celah terjadinya kecelakaan. Ia menduga kurangnya waktu istirahat berdampak pada konsentrasi pengemudi saat bertugas. "Jadi human error, sehingga kemudian busnya menyebrang atau melintasi, melawan arah," ucap Pramono. Evakuasi bus Transjakarta pasca kecelakaan di jalur langit Koridor 13 arah Blok M, Jakarta Selatan, Senin (23/2/2026) Akibat insiden tersebut, total korban luka tercatat sebanyak 23 orang. Seluruh korban telah dievakuasi dan mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan terdekat. Sebanyak 21 korban dirawat di Rumah Sakit Sari Asih dan dua lainnya dirujuk ke Rumah Sakit Bakti Asih. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memastikan seluruh korban mendapatkan perawatan maksimal tanpa dipungut biaya. Pramono mengatakan bahwa manajemen Transjakarta bertanggung jawab penuh atas biaya pengobatan para korban. Sementara itu, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan, faktor paling besar penyebab kecelakaan di jalan raya adalah kesalahan pengemudi. Ada saja kejadian mobil menabrak benda lain karena pengemudinya mengantuk. ilustrasi lelah mengemudi “Menyetir sambil mengantuk sudah jelas bisa membahayakan dirinya dan orang lain. Mengantuk bisa membuat pengemudi berada di posisi setengah sadar,” ucap Sony, secara terpisah. “Artinya, mata tidak bisa membaca lalu lintas dengan benar dan otak sudah tidak dapat merespon situasi lingkungan,” kata dia. Sony melanjutkan, pengemudi yang mengantuk setengah dari pikirannya sudah berada di bawah alam sadar. Jadi tentu ketika menyetir, pengemudi tidak bisa membaca situasi lalu lintas yang ada di depannya. “Perilakunya loss, ketika mengemudi ya hanya lurus tanpa kontrol dan berhenti ketika sudah menabrak objek di depan atau samping kiri kanannya,” ujarnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang