Banyak orang berpikir mobil yang berat pasti aman dari banjir, padahal faktanya justru bisa hanyut dengan mudah. Termasuk ketika hendak menerobos banjir dengan aliran arus cukup deras. Pengendara sebaiknya menghindari menerobos aliran banjir, terlebih lagi mobil yang digunakan memiliki ground clearance rendah. Eko Setiawan, pemilik bengkel mobil Everest Motor Bintaro, Tangerang Selatan mengatakan ground clearance rendah tak hanya bisa membuat air lebih mudah masuk ke dalam kabin. “Spesifikasi tersebut membuat mobil lebih mudah hanyut ketika kena arus banjir, air bisa mengangkat atau menggeser mobil dengan mudah karena punya gaya ke atas yang bisa mengangkat benda berat sekalipun,” ucap Eko kepada KOMPAS.com, Sabtu (8/11/2025). Ketika air sudah setinggi lantai dasar mobil atau lebih, maka sebagian besar berat mobil sudah “ditopang” air. Akibatnya, ban kehilangan traksi ke jalan, mulai melayang dan mudah terseret. “Arus air banjir tidak hanya mengangkat, tapi juga mendorong ke samping, air mengalir punya energi kinetik besar, pada dasarnya semua benda yang ada di dalam air bisa menjadi lebih ringan,” ucap Eko. Mobil offroad menerjang banjir Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan pengendara perlu memperhatikan ground clearance mobil sebelum melewati banjir dengan aliran arus. “Mobil-mobil offroad tampak bisa melewati sungai, hal ini bisa terjadi karena memiliki ground clearance tinggi, bobot yang lebih berat dan modifikasi yang disesuaikan untuk menerobos sungai, untuk mobil harian kan tidak,” ucap Sony kepada KOMPAS.com, Sabtu (8/11/2025). Arus banjir menjadi sangat berbahaya karena jika sampai membuat mobil terendam lebih dari setengah tinggi pintunya, mobil bisa terangkat. Sejumlah mobil pribadi kini bisa melintas Pantura Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah setelah banjir surut, Kamis (6/11/2025). “Selama air tidak lebih dari setengah tinggi pintu, bobot kendaraan masih bisa terdistribusi ke roda, jika lebih bobot kendaraan akan ditopang oleh bodi, sehingga roda tidak lagi bisa menapak,” ucap Sony. Dalam hal ini, menurut Sony, penting agar pengendara bisa membedakan antara melibas sungai dengan terseret arus. Artinya selama distribusi bobot kendaraan msh di roda maka mobil masih aman. Saat terendam, ban mobil bakal kehilangan kontak dengan aspal. Jalan di bawah air cenderung licin, penuh lumpur, atau kerikil sehingga grip hilang total. Sehingga, sekuat apa pun mesin atau rem, tidak ada gaya penahan atau dorong yang efektif. Jadi, arus deras yang menabrak sisi mobil memberi tekanan tinggi pada pintu dan bodi. Ditambah adanya kombinasi gaya apung dan dorongan tadi maka mobil mudah terseret. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.