Ada beberapa konsumen di Indonesia yang sangat berhati-hati untuk membeli mobil baru. Padahal, uangnya ada, tapi kemauan untuk membeli mobil justru ditahan. Siapa mereka?Penjualan mobil di Indonesia lagi jadi sorotan. Angka penjualan terus turun dalam dua tahun terakhir. Kondisi perekonomian yang tak menentu jadi salah satu faktornya. Di segmen bawah, bisa dilihat penjualan mobil LCGC (Low Cost Green Car) anjlok. Para pembeli mobil pertama yang biasanya mengincar mobil LCGC kondisinya terhimpit. Lembaga pembiayaan makin selektif dalam memberikan kredit. Padahal kebanyakan pembeli mobil pertama justru mengandalkan kredit. Belum lagi ada biaya lain yang harus dikeluarkan untuk keberlanjutan hidup sehari-hari."Kalau yang di bawah (segmen bawah) memang sudah terlalu mepet budgetnya, dan mereka akan memprioritaskan apa, pendidikan anak, masalah kesehatan, masalah perumahan, iya dong? Mereka lebih ngitung, saya ini mesti menyisihkan uang berapa untuk bayar cicilan rumah ketimbang bikin masalah baru ngambil mobil," ujar pengamat otomotif Bebin Djuana.Bukan cuma itu, deretan mobil listrik yang punya harga tak jauh berbeda dari LCGC juga jadi tantangan selanjutnya. Sebab, kehadiran mobil listrik harga terjangkau itu bikin para pembeli mobil pertama yang biasa mengincar LCGC justru beralih. Terlebih, biaya operasional mobil listrik diklaim lebih murah ketimbang mobil bermesin konvensional. Pun lagi di kota besar seperti Jakarta, mobil listrik juga dapat keistimewaan ganjil genap."Karena sekarang kan LCGC udah nggak murah-murah amat. Tidak seperti dulu waktu diperkenalkan. Nah sekarang udah ada EV harganya kira-kira ada di garisnya LCGC. Masyarakat kan tahu keseharian, biaya per kilometernya listrik kan sepertiga daripada beli bensin," tutur Bebin.Di segmen atas beda lagi ceritanya. Kalau bicara uang sebenarnya mereka ada, tapi justru menahan membeli mobil baru. Bebin mengungkap, kelompok di segmen atas kini sangat berhati-hati membeli mobil baru. Mereka lebih memilih menahan beli mobil baru sembari memantau situasi perekonomian RI."Mereka tuh punya daya beli tapi belum tentu mau spending, mau membelanjakan uangnya," urai Bebin.Menurutnya, faktor yang jadi pertimbangan segmen atas sebelum membeli mobil bukan hanya soal kondisi ekonomi dalam negeri. Kondisi global juga turut jadi perhatian."Nah kelompok ini punya daya beli tapi bisa mengatakan, ah ngapain gue beli sekarang, di garasi juga masih ada dua, masih ada tiga, dan masih bisa dipakai, kecuali yang satu sudah rusak, mau nggak mau mesti saya buang," ujarnya lagi.