Memahami spesifikasi sepeda motor listrik tidak cukup hanya melihat angka kapasitas baterai atau besarnya daya motor. Lebih dari itu, keselarasan antar komponen justru menjadi kunci agar kendaraan tidak hanya bertenaga, tetapi juga tahan lama. Hendro Sutono, Juru Bicara KOSMIK Indonesia (Komunitas Sepeda/Motor Listrik Indonesia), mengatakan, pendekatan dalam menilai motor listrik perlu bergeser dari sekadar spesifikasi ke cara kerja sistem secara keseluruhan. Motor listrik Indomobil Emotor QT “Dalam konteks ini, pertanyaan yang relevan bukan lagi ‘seberapa besar kapasitas’ atau ‘seberapa tinggi daya’, tetapi ‘seberapa selaras sistem ini bekerja dalam kondisi nyata’. Agar tidak berhenti di konsep, pendekatan ini bisa digunakan untuk mengevaluasi sepeda motor listrik secara praktis,” ujar Hendro kepada Kompas.com, Minggu (29/3/2026). Ia menjelaskan, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan oleh pengguna untuk menilai apakah sistem motor listrik dirancang dengan baik atau tidak. "Pertama, perhatikan rasio antara kapasitas baterai dan daya dinamo. Sistem yang selaras biasanya memiliki kapasitas yang relatif besar dibanding kebutuhan dayanya, sehingga dalam penggunaan normal baterai tidak dipaksa bekerja mendekati batasnya," ujarnya. Baterai motor listrik Kupprum URB-X "Selain itu, perhatikan konsistensi performa pada berbagai kondisi SOC. Sistem yang baik tidak menunjukkan penurunan tenaga yang drastis saat baterai berada di bawah 50 persen. Jika performa turun signifikan, kemungkinan sistem bekerja terlalu dekat dengan batasnya," ujarnya. Menurut Hendro, konsumen sering terjebak pada angka-angka besar yang terlihat menarik di awal. Padahal, tanpa keseimbangan sistem, performa tersebut belum tentu bertahan dalam penggunaan jangka panjang. Jajaran motor listrik Honda "Selanjutnya, amati perilaku saat akselerasi berulang. Pada sistem yang tidak selaras, performa akan terasa menurun setelah beberapa kali akselerasi karena akumulasi panas dan penurunan tegangan. Sistem yang selaras cenderung lebih stabil," katanya. "Tak kalah penting, perhatikan karakter pengisian dan penggunaan harian. Jika baterai sering habis dalam satu siklus penggunaan normal, berarti kapasitas terlalu mepet dengan kebutuhan, yang dalam jangka panjang akan mempercepat degradasi," ungkapnya. Terakhir, katanya, evaluasi dari sisi desain apakah sistem terlihat memiliki margin, atau justru terlihat dipaksa untuk mencapai angka tertentu. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang