Menggunakan sepeda motor listrik memang belum menjadi pilihan utama mayoritas masyarakat Indonesia saat ini. Motor bermesin pembakaran internal (bensin) dirasa masih nyaman digunakan untuk kebutuhan harian, di samping harga motor listrik yang dinilai sebagian orang masih cukup tinggi. Meski demikian, tren perpindahan konsumen dari motor bensin ke motor listrik terus bergulir. Alasan kepindahan pengguna pun beragam, mulai dari kejenuhan mengantre di stasiun pengisian bahan bakar hingga pencarian efisiensi pengeluaran harian. Motor listrik Uwinfly di Jakarta Fair 2023 Saya merangkum pengalaman dari tiga pengguna yang telah memutuskan beralih menggunakan motor listrik untuk mobilitas harian mereka. Menghindari Antrean BBM Kiagus Abdul Rofi, pengguna Uwinfly T5 sejak Oktober 2022, mengungkapkan bahwa keputusannya beralih dari motor bensin didasari oleh kebutuhan mobilitas harian yang menuntut efisiensi tinggi. Selain faktor biaya operasional yang lebih hemat, ketidakpastian harga BBM serta antrean di SPBU yang makin panjang menjadi pemicu utama beralih ke kendaraan listrik. “Perubahan harga bensin tidak jelas waktu itu, ditambah antrean beli bensin makin panjang. Jadi solusi terbaik adalah beli motor listrik yang bisa menyelesaikan semua masalah cukup dari rumah,” ujar Kiagus kepada Kompas.com, Senin (21/9/2026). Tuntutan Komuter Sementara itu, Randy Waluya, pengguna Yadea E8s Pro sejak November 2023, memilih beralih karena adanya kebutuhan untuk mobilitas ke kantor. Dengan rute komuter dari Depok menuju wilayah Kuningan, Jakarta Selatan, sejauh 30 kilometer (PP 60 km), ia membutuhkan armada tambahan karena motor bensin di rumahnya digunakan sang istri. Yadea E8S Pro dijual dengan harga Rp 23,9 juta tanpa subsidi pemerintah untuk on-the-road Jabodetabek. Randy lantas memanfaatkan program subsidi pemerintah serta mencari referensi melalui komunitas Komunitas Sepeda dan Motor Listrik (KOSMIK). Setelah membandingkan beberapa opsi seperti Polytron Fox R, Smoot Zuzu, dan Yadea T9, pilihan akhirnya jatuh pada Yadea E8s Pro karena klaim jarak tempuh hingga 100 km, garansi dua tahun, serta estimasi biaya penggantian baterai per modul sebesar Rp 900.000. “Setelah dipakai, baru sadar kalau Yadea ini masih menggunakan baterai jenis Sealed Lead-Acid (SLA). Namun karena ada garansi selama dua tahun, saya pikir aman. Dari sisi pemakaian, tagihan listrik rumah saya hanya bertambah sekitar Rp 50.000 per bulan untuk ngecas motor ini,” kata Randy kepada Kompas.com. Polytron Fox R Minim Perawatan Alasan kepraktisan dan harga beli yang terjangkau juga disampaikan oleh Hadyan Ahmad Farizi, pemilik Polytron Fox R keluaran 2024. Ia tertarik beralih karena skema perawatan motor listrik tergolong minim, pajak tahunan murah, serta harga beli unit yang terjangkau saat mendapatkan insentif subsidi pemerintah. “Minim perawatan dan pajaknya murah. Ditambah harganya dulu murah sekali, cuma Rp 13 jutaan di saat harga motor matik seperti Honda BeAT sudah di atas Rp 20 juta,” ungkap Hadyan kepada Kompas.com. Komparasi VinFast Viper dengan Indomobil Emotor Sprinto Ia kerap memanfaatkan kendaraan tersebut untuk rute komuter jarak jauh dari Bogor menuju tempat kerjanya di Jakarta dengan jarak tempuh pulang-pergi sekitar 100 km. “Dari kondisi baterai penuh 100 persen, biasanya masih tersisa sekitar lima persen saat sampai di rumah lagi,” kata Hadyan. Buat yang mau ganti dari motor konvensional ke motor listrik, memang ada penghematan secara biaya operasional. Selain itu di tengah harga BBM yang sekarang tembus Rp 15.000-an (RON 92), antrean BBM subsidi makin panjang, motor listrik bisa jadi solusinya.