JAKARTA, KOMPAS.com – Menghantam lubang saat mengemudi, terutama dalam kecepatan tinggi, bukan hanya membuat pengemudi terkejut. Selain berisiko merusak ban atau pelek, benturan keras juga bisa berdampak pada komponen penting lain yang jarang disadari, yakni sensor ABS. Jika rusak, bukan cuma sistem keselamatan yang terganggu, biaya perbaikannya pun bisa menembus jutaan rupiah. Menurut Lung Lung, pemilik Dokter Mobil, posisi sensor ABS memang berada sangat dekat dengan cakram rem, sehingga rentan terdampak benturan keras dari bawah kendaraan. “Sensor ABS itu posisinya di dekat disc brake. Jadi kalau mobil menghantam lubang dalam dengan kecepatan tinggi, bisa saja sensornya putus. Sekali putus, ya harus ganti,” kata Lung Lung kepada Kompas.com, Sabtu (28/2/2026). Ia menjelaskan, banyak pemilik mobil tidak menyadari risiko tersebut karena secara fisik sensor terlihat kecil. Ilustrasi sistem ABS pada mobil. Padahal, fungsinya sangat penting dalam sistem pengereman modern, terutama untuk mencegah roda terkunci saat pengemudi melakukan pengereman mendadak. Jika sensor ABS rusak, biasanya ditandai dengan lampu indikator ABS menyala di panel instrumen. Dalam kondisi tersebut, sistem anti-lock braking system tidak bekerja optimal. Artinya, mobil tetap bisa direm, tetapi tanpa fitur pencegah penguncian roda yang membantu menjaga kestabilan saat deselerasi mendadak di permukaan jalan licin atau tidak rata. Dari sisi biaya, penggantian sensor ABS memang tidak bisa dianggap sepele. Lung Lung menyebut harga satu sensor original umumnya berada di kisaran Rp 1 juta hingga Rp 4 juta, tergantung merek dan tipe kendaraan. “Harganya tergantung mobilnya. Untuk mobil menengah ke bawah biasanya masih di kisaran Rp 1 juta sampai Rp 2 jutaan. Tapi kalau mobil Eropa atau premium, bisa mendekati Rp 4 juta satu sensor, itu belum termasuk ongkos pasang,” ujarnya. Karena itu, ia mengingatkan pengemudi agar lebih berhati-hati saat melintasi jalan rusak. “Kalau lihat lubang, jangan dipaksa ngebut. Selain ban dan pelek, komponen seperti sensor ABS juga bisa kena dampaknya. Padahal ini bagian penting dari sistem keselamatan,” kata Lung Lung. Dengan memahami risikonya, pengemudi diharapkan lebih bijak mengatur kecepatan agar tidak berujung pada kerusakan komponen vital yang biayanya tidak sedikit. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang