Elon Musk di Pembukaan World Water Forum ke-10. Besaran gaji para petinggi industri otomotif global kerap menjadi sorotan karena nilainya yang fantastis. Angka tersebut bukan sekadar gaji pokok, melainkan kombinasi bonus, insentif kinerja, hingga kompensasi berbasis saham. Salah satu nama yang paling menonjol adalah Carlos Tavares sebagai bos Stellantis. Ia sempat menerima total kompensasi sekitar €36,5 juta atau setara kurang lebih Rp620 miliar dalam satu tahun. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Besarnya angka tersebut berasal dari sistem berbasis performa yang diterapkan perusahaan. Artinya, semakin tinggi pencapaian bisnis, semakin besar pula bonus yang diterima oleh pimpinan perusahaan.Di Amerika Serikat, pola serupa juga terlihat pada Mary Barra yang memimpin General Motors. Total kompensasinya berada di kisaran USD 25–30 juta per tahun atau sekitar Rp400–480 miliar.Hal yang sama juga berlaku untuk Jim Farley di Ford Motor Company. Ia menerima bayaran sekitar USD 20–25 juta per tahun, setara Rp320–400 miliar dengan dominasi insentif jangka panjang.Jika dibandingkan, struktur gaji di Amerika cenderung lebih agresif karena mengandalkan kompensasi berbasis saham. Hal ini membuat total pendapatan CEO bisa meningkat signifikan ketika performa perusahaan mengalami pertumbuhan.Berbeda dengan Amerika, Eropa cenderung memiliki struktur gaji yang lebih konservatif. Oliver Blume sebagai pimpinan Volkswagen Group menerima kompensasi sekitar €9–10 juta per tahun atau sekitar Rp150–170 miliar.Meski lebih rendah, sistem di Eropa tetap memberikan insentif berbasis kinerja, hanya saja dengan batasan yang lebih ketat. Pendekatan ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara kinerja perusahaan dan tata kelola.Sementara itu, ada juga kasus unik seperti Elon Musk dari Tesla. Ia tidak mengambil gaji pokok, namun mendapatkan kompensasi dalam bentuk saham yang nilainya bisa mencapai puluhan miliar dolar atau setara ratusan triliun rupiah. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Disadur VIVA Otomotif dari Slashgear, Senin 27 April 2026, struktur kompensasi ini memang menjadi praktik umum di industri otomotif global. Skema tersebut dirancang agar kepentingan CEO selaras dengan performa perusahaan dalam jangka panjang.Fenomena ini menunjukkan bahwa besaran gaji tidak selalu mencerminkan pendapatan tetap yang diterima setiap bulan. Sebaliknya, sebagian besar justru berasal dari insentif yang sangat bergantung pada kinerja bisnis.