Cuaca panas dan terik matahari membuat kabin mobil lebih cepat terasa gerah. Kondisi ini juga membuat kerja sistem pendingin udara atau AC mobil menjadi lebih berat. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mayoritas wilayah di Indonesia mengalami puncak musim kemarau 2026 pada Agustus. Fenomena El Niño juga berpotensi membuat musim kemarau terasa lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal hingga November 2026. Ketika mobil digunakan pada siang hari, panas matahari yang mengenai bodi dan kaca membuat temperatur kabin meningkat. Akibatnya, AC membutuhkan waktu lebih lama untuk membuat suhu kabin terasa nyaman. Dewa, pemilik Bengkel AC Mobil Jogja, mengatakan panas matahari yang terik akan menginduksi bagian mobil sehingga kerja AC menjadi lebih berat. Ilustrasi thermometer untuk mengukur suhu udara AC mobil “Sebenarnya tidak hanya berdampak pada sistem AC, mesin pun akan mengalami peningkatan suhu pengaruh dari lingkungan sekitar, dampaknya kompresor AC juga akan menjadi lebih tinggi kompresinya, ini bikin performa AC menurun,” ucap Dewa kepada Kompas.com, belum lama ini. Menurut Dewa, kondisi tersebut dapat menjadi tanda AC mobil mengalami penurunan performa. Karena itu, pemilik mobil perlu melakukan pemeriksaan untuk mengetahui sumber masalahnya. Suhu AC Mobil Punya Batas Aji Dwi Nugroho, Foreman di bengkel mobil Aha Motor Yogyakarta, mengatakan kemampuan AC dalam menciptakan embusan udara dingin tetap memiliki batas. “Ada standarnya, berapa suhu paling rendah AC mobil, sebagai contoh 4 derajat Celcius dari hulu ventilator ketika AC bekerja optimal, normalnya tak akan menghasilkan suhu lebih dingin dari itu, kecuali ada masalah,” ucap Aji. Suhu tersebut merupakan pengukuran pada bagian hulu ventilator atau kisi-kisi AC. Udara dingin yang keluar kemudian digunakan untuk menurunkan suhu udara di dalam kabin. Ilustrasi pengisian freon pada AC mobil Saat cuaca sangat panas, suhu kabin tentu akan lebih tinggi. Kondisi ini membuat udara dingin dari AC terasa kurang maksimal, meski suhu yang keluar dari ventilator sebenarnya masih dalam kondisi normal. “Ketika cuaca panas ekstrem, udara di dalam kabin akan terinduksi oleh panasnya plat mobil, sehingga udara dingin dari AC akan terasa kurang optimal, ketika arah angin diembuskan ke tubuh baru terasa dingin,” ucap Aji. Menurut Aji, perbedaan suhu ruang di dalam kabin saat siang hari ketika cuaca panas merupakan hal yang wajar. Namun, pemilik mobil perlu waspada apabila suhu udara yang keluar dari ventilator ikut meningkat. Hal tersebut bisa menunjukkan adanya penurunan performa sistem AC. “Kami selalu mengukur suhu dari hulu ventilator atau kisi-kisi AC sebagai patokan, bila suhunya masih normal, konsumen mungkin bisa melakukan pasang kaca film yang mampu meredam panas, itu juga berpengaruh,” ucap Aji. Filter AC Mobil AC Tetap Harus Dingin Sementara itu, Service Advisor PT Graha Rajasa (Denso), Andres Siswanto, mengatakan AC mobil yang bekerja normal seharusnya tetap mampu mendinginkan kabin meski kendaraan digunakan di bawah terik matahari. “Tidak normal itu, AC mobil yang bagus pasti bisa mendinginkan udara di dalam kabin walaupun cuaca sedang terik, perlu diperiksa apakah ada masalah pada sistem AC-nya, ini bisa menjadi rumit karena banyak faktor yang mempengaruhi,” ucap Andres kepada Kompas.com. Menurut Andres, AC yang tidak mampu mendinginkan kabin tidak selalu disebabkan oleh cuaca panas. Bisa saja terdapat masalah pada sistem pendingin. Salah satu penyebabnya adalah freon yang berkurang. Jika kondisi ini terjadi, sistem perlu diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya kebocoran. Selain itu, penurunan performa juga bisa berasal dari kompresor, motor fan, hingga sistem kelistrikan AC. Karena itu, apabila AC mobil terasa kurang dingin, terutama saat digunakan pada siang hari ketika cuaca panas, pemilik kendaraan sebaiknya tidak langsung menganggap kondisi tersebut sebagai efek cuaca.