Persaingan industri alat berat pertambangan Indonesia tidak lagi hanya ditentukan oleh harga pembelian unit. Efisiensi biaya operasional dan kemampuan menekan total biaya kepemilikan dalam jangka panjang menjadi pertimbangan penting bagi perusahaan tambang. Hal tersebut menjadi salah satu fokus PT San Traktor Indonesia (STI), bagian dari Multi Power Group, yang memasarkan alat berat merek Shantui di Indonesia. Perusahaan menawarkan solusi yang tidak hanya mengejar produktivitas, tetapi juga menekan biaya operasional pelanggan. Bisnis alat berat makin kompetitif. Efisiensi biaya operasional, usia komponen, dan layanan purna jual menjadi kunci bagi perusahaan tambang. Bukan Sekadar Harga Beli Joseph Effendy, perwakilan manajemen Multi Power Group mengatakan, Shantui menawarkan fleksibilitas dengan struktur biaya yang dinilai lebih efisien dibandingkan sejumlah merek premium. "Saya tidak akan mengeklaim ini yang termurah. Namun, efisiensi biayanya memang nyata. Yang perlu dilihat adalah perspektif jangka panjang, minimal lima tahun ke depan," ujar Joseph, dalam keterangan resmi (21/9/2026). Menurut Joseph, efisiensi alat berat tidak bisa hanya dilihat dari harga unit ketika pertama kali dibeli. Biaya komponen, usia pakai, perawatan, hingga potensi downtime ikut menentukan biaya operasional sebenarnya. "Bagi kami, efisiensi bukan hanya mengenai harga komponen saat pembelian. Yang lebih penting adalah bagaimana komponen tersebut dapat bekerja secara optimal, memiliki lifetime yang sesuai dengan kondisi operasional, mengurangi risiko downtime, dan pada akhirnya memberikan cost per hour yang lebih baik bagi pelanggan," katanya. Ilustrasi forklift Shantui Purnajual Ikut Tekan Downtime Efisiensi operasional juga didukung layanan purnajual. Multi Power Group memperluas layanan hingga mendekati lokasi tambang dan perkebunan untuk mempercepat penanganan ketika terjadi masalah pada unit. "Dulu kita memang cuma jual. Orang biasanya tidak peduli, pakai, usai, selesai. Tapi sekarang kita harus evolve. Kita berinovasi dan berkembang mengikuti zaman. Customer minta aftersales, minta service. Kita kunjungi customer, bantu operasional mereka. Bukan cuma jualan, tapi kita bantu profit mereka naik," kata Joseph. STI memiliki jaringan kantor dan service center di sejumlah wilayah, termasuk Pekanbaru, Muara Enim, Palembang, Melak, Balikpapan, Tarakan, Banjarmasin, Tanjong, Sangatta, Makassar, dan Kendari. Kedekatan dengan lokasi kerja pelanggan diharapkan mempercepat respons teknis sekaligus mengurangi waktu unit tidak beroperasi. Bagi perusahaan tambang, semakin lama alat berat berhenti, semakin besar pula potensi kehilangan produksi. "Garansi itu bukan sekadar kertas, tapi komitmen bahwa kami yang akan turun tangan kalau ada masalah di lapangan," ucap Joseph.