Kini pengguna transportasi umum kerap dianggap sebagai masyarakat kelas dua lantaran hanya mengeluarkan biaya dengan tarif ekonomis untuk mobilitas. Maka dari itu, tidak sedikit yang memilih menggunakan kendaraan pribadi untuk menunjang gengsi semata. Yusa Cahya Permana, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Jakarta, mengatakan bahwa bila melihat ke tahun 90-an, angkutan umum sangat populer bagi masyarakat. Sebab, saat itu tidak ada pilihan lain selain menggunakan angkutan umum. "Dulu punya kendaraan pribadi itu mahal, aksesnya susah, pembiayaannya susah. Tiba-tiba ketika kita memasuki tahun 2000, kendaraan pribadi itu terjangkau, mudah dibeli, mudah diakses, mudah dibiayai, makanya angkanya meledak," katanya pada acara Diskusi Catatan Transportasi Awal Tahun 2026 beberapa hari yang lalu. Karena mudah dalam membeli kendaraan pribadi, menurut Yusa, angkutan umum jadi punya saingan dan secara perlahan kalah saing. Sebab, layanan transportasi umum yang ada tidak mengikuti kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. "Yang paling parah adalah karena ada stigma yang kita tidak pernah bahas, tidak pernah akui dan tidak pernah kita sentuh, bagaimana menghilangkan stigma itu bahwa naik angkutan umum itu bukan berarti warga negara kelas dua, bukan berarti tidak bergengsi," katanya. Hal inilah yang menimbulkan stigma, kendaraan pribadi itu sebagai standar kesejahteraan seseorang. Aktifitas harian masyarakat urban seperti naik transportasi umum, antre, dan jalan kaki dalam bakar kalori dan kecilkan lingkar pinggang. Padahal, menurut Yusa, karena keterpaksaan, artinya pilihan angkutan umum yang aman dan layak, maka harus naik kendaraan pribadi. Situasi ini juga dimanfaatkan oleh iklan-iklan kendaraan pribadi saling adu keunggulan. Namun, tidak ada iklan layanan publik yang menjelaskan pengguna angkutan umum itu bukan berarti tidak mampu. "Saya sering sekali dapat undangan ke suatu acara, semua orang nanyanya bukan bapak naik angkutan apa? tapi mereka tanya bapak bawa kendaraan apa? tidak pernah ditanya bapak nanti masuk dari pintu mana di pejalan kaki tidak? Itu kelihatan sekali bahwa angkutan umum itu tidak dianggap. Tamu itu harus naik mobil, harus naik motor. Nah ini yang harus kita hilangkan, gimana kita menghilangkan stigma?," katanya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang