Mobil listrik diprediksi kian populer selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Lonjakan penggunaan ini terutama dipicu oleh tingginya mobilitas masyarakat yang melakukan perjalanan jarak jauh. Fasilitas pengisian daya cepat atau DC fast charging menjadi primadona bagi pengemudi mobil listrik untuk mengefisienkan waktu tempuh. Namun, penggunaannya yang terlalu sering perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi kesehatan baterai kendaraan listrik. Suhu Baterai Sebanyak 53 rest area Tol Trans Jawa kini dilengkapi SPKLU, mendukung perjalanan mobil listrik jarak jauh saat Nataru. Iqbal Taufiqurrahman, Product Planning and Strategy for GAC Indonesia (Guangzhou Automobile Group), menjelaskan bahwa DC charging memang menawarkan pengisian daya dalam waktu singkat. Akan tetapi, metode ini menghasilkan peningkatan suhu baterai yang lebih signifikan dibandingkan pengisian daya arus AC. “Saat menggunakan DC charging, suhu baterai akan meningkat karena proses pengisian berlangsung sangat cepat. Jika sistem pendingin baterai tidak bekerja dengan optimal, panas tersebut bisa memicu penurunan kondisi kesehatan baterai,” ujar Iqbal kepada Kompas.com, baru-baru ini. Menurut Iqbal, potensi ini bisa saja terjadi selama periode libur Nataru, ketika pengemudi mobil listrik melakukan pengisian daya berulang kali dalam satu kali perjalanan. Situasi ini kerap ditemui di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang berada di jalur padat, seperti di area peristirahatan (rest area) tol. PT Toyota-Astra Motor (TAM) kini menghadirkan fasilitas Toyota Privilege Parking & Charging di Kota Bandung. Fasilitas ini berlokasi di area Lobby Hejo, 23 Paskal Shopping Center, salah satu pusat belanja yang ramai dikunjungi warga. Degradasi Baterai Ia menambahkan, panas berlebih yang terjadi secara terus-menerus dapat mempercepat degradasi baterai dalam jangka panjang. Dampaknya mungkin tidak langsung terasa, tetapi dapat memengaruhi kapasitas penyimpanan daya seiring bertambahnya waktu pemakaian. “DC charging sebenarnya aman digunakan. Namun, sebaiknya metode ini tidak dijadikan satu-satunya pilihan pengisian daya, terlebih jika dilakukan secara berulang tanpa jeda. Kombinasi dengan pengisian daya AC dan memberikan waktu bagi baterai untuk menurunkan suhu akan jauh lebih baik,” tutur Iqbal. Ia menjelaskan, sebagian besar kendaraan listrik saat ini telah dibekali sistem manajemen baterai dan pendingin yang cukup canggih. Meski begitu, kebiasaan penggunaan tetap menjadi faktor krusial dalam menjaga performa dan usia pakai baterai. Selama libur Nataru, Iqbal mengimbau para pengguna mobil listrik untuk merencanakan perjalanan dengan lebih matang, termasuk memperhitungkan waktu pengisian daya. Melalui pengaturan ritme perjalanan yang baik, penggunaan DC charging dapat dioptimalkan tanpa mengorbankan kondisi baterai. “Perjalanan liburan seharusnya tetap nyaman dan aman. Dengan memahami karakter pengisian daya dan tidak memaksakan fast charging secara berlebihan, performa baterai mobil listrik dapat terjaga dalam jangka panjang,” katanya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang