Menanggapi keluhan para pengusaha angkutan barang yang kembali mengalami kelangkaan solar bersubsidi menjelang akhir tahun, Pertamina buka suara. Area Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina PPN Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, mengatakan, jelang akhir tahun, sebelumnya di wilayah Jawa Tengah dan DIY ini untuk stoknya dalam keadaan aman. “Jadi tidak ada yang namanya kekosongan stok. Nah sebetulnya terminologi kelangkaan ini sekaligus untuk edukasi itu secara peraturan perundangan itu terjadi apabila ada kekosongan stok yang diakibatkan oleh gangguan distribusi. Gangguan distribusi bisa bencana alam, bisa kerusuhan yang menyebabkan tidak adanya BBM di suatu wilayah,” katanya kepada Kompas.com, Kamis (13/11/2025). Ia menambahkan, hingga saat ini ketahanan stok solar di Jawa Tengah dan DIY mencapai 15,6 kali lipat dari kebutuhan harian. Pertamina mencatat total ketersediaan mencapai 175.193 kiloliter dengan konsumsi harian sekitar 6.610 kiloliter. Ilustrasi SPBU Pertamina “Jadi yang terjadi sekarang bukan kelangkaan, melainkan peningkatan permintaan. Jelang akhir tahun itu wajar, karena banyak sektor seperti industri, pabrik, proyek, dan logistik yang kejar target, sehingga frekuensi pembelian meningkat dan menyebabkan antrean di SPBU,” jelasnya. Taufiq menegaskan bahwa antrean kendaraan di SPBU tidak berarti BBM langka, melainkan dampak dari lonjakan konsumsi musiman. “Ini sekaligus edukasi juga untuk masyarakat bahwa apabila ada antrian apapun ya di SPBU itu bukan serta-merta langsung dimaknai sebagai kondisi kelangkaan. Tapi ini memang adanya peningkatan permintaan yang diakibatkan oleh faktor-faktor yang saya sebutkan tadi untuk kondisi akhir tahun,” katanya. Ia memastikan Pertamina tetap menjaga pasokan agar penyaluran sesuai kuota yang ditetapkan pemerintah hingga akhir tahun. Lebih lanjut, Taufiq juga menanggapi pernyataan yang menyebutkan adanya ketidaksesuaian antara kuota subsidi dan kebutuhan di lapangan. Menurut Taufiq, usulan terkait penyesuaian kuota sebaiknya disampaikan oleh asosiasi kepada pemerintah daerah, karena Pertamina hanya menyalurkan sesuai kuota resmi yang telah ditetapkan. Dia juga menegaskan, bahwa kondisi stok solar dalam keadaan aman di seluruh SPBU Pertamina, di Jateng dan DIY rata-rata ketahanan stoknya itu di 15,6 kali lipat. “Jadi dalam satu hari apabila ada lonjakan konsumsi 15 kali lipat sekalipun kita masih bisa menanggulangi gitu ya secara storage-nya seperti itu,” katanya. Sebagai informasi, sebelumnya, Ketua Aptrindo Jawa Tengah dan DIY, Bambang Widjanarko, mengatakan bahwa kelangkaan solar bersubsidi terjadi setiap akhir tahun disebabkan oleh ketidakseimbangan antara kuota subsidi dan kebutuhan di lapangan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.