Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto melakukan perombakan atau reshuffle sejumlah posisi di Kabinet Merah Putih. Dalam reshuffle yang dilakukan pada Kamis (1/10/2026), Presiden Prabowo melantik sejumlah pejabat baru untuk mengisi posisi menteri, wakil menteri, hingga kepala lembaga. Nama yang masuk dalam susunan kabinet adalah Sekretaris Jenderal Partai Muhammad Sarmuji, yang dilantik menjadi Menteri Perindustrian (Menperin), menggantikan Agus Gumiwang Kartasasmita. "Demi Tuhan saya berjanji bahwa saya akan setia kepada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Serta akan menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya," ujar Prabowo diikuti oleh pejabat yang dilantik, di Istana, Jakarta, Kamis, dikutip dari , (1/10/2026). Sekretaris Jenderal Golkar Muhamad Sarmuji. Presiden Prabowo Subianto melantik Muhammad Sarmuji sebagai Menteri Perindustrian di Istana Negara, Kamis (1/10/2026). Pekerjaan Sejumlah agenda yang sebelumnya dijalankan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) di bawah Agus kini menjadi pekerjaan yang diemban Sarmuji, khususnya di sektor otomotif. Beberapa program di sektor otomotif yaitu pengembangan kendaraan listrik, peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), penguatan industri komponen dan daya saing industri otomotif. Tantangan yaitu memastikan pertumbuhan industri kendaraan listrik tidak hanya meningkatkan jumlah kendaraan yang dijual tapi diproduksi di Indonesia, sehingga bisa jadi nilai tambah bagi industri dalam negeri. Penguatan TKDN juga menjadi salah satu agenda yang sudah ditekankan Kemenperin pada masa Agus. Target TKDN kendaraan listrik di Indonesia meningkat bertahap. Untuk KBL berbasis baterai roda empat atau lebih ketentuannya mengacu pada peta jalan Kemenperin dan regulasi terkait. Suasana pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, saat peresmian, Kamis (3/9/2026). Pada 2019–2021, TKDN minimal 35 persen. Kemudian pada 2022–2026 minimal 40 persen, ketentuannya naik pada 2027–2029 minimal 60 persen dan mulai 2030 hingga seterusnya minimal 80 persen. Artinya, mulai 2027 target TKDN kendaraan listrik naik cukup signifikan menjadi 60 persen, kemudian menjadi 80 persen mulai 2030. Namun, tantangannya bukan hanya menaikkan persentase kandungan lokal pada kendaraan, melainkan memperdalam rantai pasok, termasuk komponen, mesin produksi, dan keterlibatan IKM. Ekosistem kendaraan listrik Pada masa Agus pengembangan kendaraan listrik tidak hanya menyangkut kendaraan jadi, tetapi juga pembangunan ekosistem dari hulu hingga hilir, termasuk baterai dan komponen. Salah satunya ialah Hyundai. Di mana, Hyundai Motor Group membangun ekosistem kendaraan listrik yang cukup terintegrasi di Indonesia, mulai dari produksi sel baterai hingga perakitan mobil. Hyundai Discovery Trip, kunjungan ke pabrik Hyundai Indonesia Di sisi baterai, terdapat PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power di Karawang, Jawa Barat, yang memproduksi sel baterai. Sel tersebut kemudian menjadi bagian dari rantai produksi baterai kendaraan listrik Hyundai sebelum digunakan pada kendaraan yang diproduksi di Indonesia.