Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menaruh perhatian khusus pada segmen low cost green car (LCGC) yang mengalami tekanan penjualan sepanjang 2025. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, penurunan kinerja LCGC menjadi salah satu indikator melemahnya daya beli masyarakat di segmen kendaraan entry level. “Kalau kita bicara mengenai segmen LCGC, ini juga mengalami tekanan. Penjualan wholesales pada 2025 hanya mencapai 122.686 unit dan turun lebih dari 30 persen,” ujar Agus saat peresmian IIMS 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (5/2/2026). Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), distribusi LCGC dari pabrik ke diler sepanjang Januari–Desember 2025 turun sekitar 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 176.766 unit. Dampaknya, kontribusi LCGC terhadap total penjualan mobil nasional juga menyusut, dari sebelumnya berada di kisaran 18–20 persen menjadi 15,5 persen. Melihat kondisi tersebut, pemerintah berencana memberikan dukungan melalui kebijakan fiskal guna mendorong pemulihan pasar LCGC. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita IIMS 2026 “Pemerintah tentu akan tetap memberikan perhatian pada pemulihan pasar LCGC melalui pemberian insentif fiskal yang efektif,” kata Agus. Meski demikian, ia belum memastikan apakah Kemenperin akan menyiapkan skema insentif baru atau mempertahankan kebijakan yang sudah berjalan. Saat ini, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 5/PMK.010/2022, kendaraan LCGC dikenakan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) sebesar 3 persen, naik dari sebelumnya yang dibebaskan. Meski tarif tersebut masih lebih rendah dibandingkan mobil berbahan bakar konvensional lain yang berada di kisaran 12–20 persen, kebijakan tersebut tetap berdampak pada kenaikan harga LCGC di pasar. Di sisi lain, kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) mendapatkan fasilitas PPnBM 0 persen, sehingga semakin kompetitif dari sisi harga. Perbedaan perlakuan fiskal tersebut turut memengaruhi pergeseran minat konsumen terhadap kendaraan elektrifikasi. Kemenperin mencatat, penjualan BEV pada 2025 meningkat signifikan dari sekitar 43.000 unit menjadi 103.000 unit. Kendaraan hybrid juga tumbuh sekitar 15 persen, sementara penjualan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) melonjak dari 74 unit pada 2024 menjadi 5.239 unit pada 2025. “Tren ini menunjukkan adanya pergeseran yang cukup signifikan menuju kendaraan yang lebih ramah lingkungan,” ujar Agus. Menurut dia, perkembangan kendaraan elektrifikasi sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mencapai target net zero emission paling lambat 2060. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang