Ilustrasi pengisian baterai mobil listrik. Pasar mobil listrik (EV) di Amerika Serikat (AS) tengah dilanda krisis berat akibat hilangnya insentif pajak federal hingga US$7.500 atau setara Rp125 juta per unit. Tanpa subsidi ini, harga EV langsung melonjak, membuat daya tariknya bagi konsumen massal meredup drastis. Penurunan ini semakin mencengangkan jika dibandingkan dengan September 2025, saat EV mencatat rekor pangsa pasar 12,9 persen dengan 136.211 unit terjual. Artinya, Oktober bisa mengalami kemerosotan hingga 59,9 persen dari bulan sebelumnya. Analis data J.D. Power, Tyson Jominy, menyebut industri otomotif sedang mengalami penyesuaian ulang signifikan di segmen EV. "Koreksi pasar ini menjadi pelajaran krusial: konsumen lebih menyukai akses terhadap berbagai pilihan penggerak," katanya.Banyak merek besar seperti Hyundai, General Motors, dan Tesla berupaya meredam dampak dengan memangkas harga, meluncurkan model lebih terjangkau, atau menawarkan bundling khusus. Tanpa strategi ini, penurunan penjualan EV kemungkinan jauh lebih dalam. Meski begitu, diskon rata-rata EV melonjak hingga US$13.161 per unit (sekitar Rp 219 juta) untuk menggantikan kredit pajak yang hilang, sementara diskon kendaraan non-EV turun menjadi US$2.423 (Rp 40 juta). Hal ini justru membantu profitabilitas keseluruhan meskipun permintaan EV melemah. Harga transaksi rata-rata (ATP) kendaraan baru pada Oktober 2025 diprediksi mencapai US$46.057 (sekitar Rp 767 juta), naik US$1.000 (Rp 16,6 juta) dari tahun sebelumnya. Pengeluaran insentif per unit turun menjadi US$2.674 (Rp 44,5 juta), atau sekitar 5 persen dari MSRP, terutama karena berkurangnya penjualan EV yang biasanya mendapat potongan lebih besar. Para eksekutif otomotif, termasuk pimpinan Ford saat ini dan pendahulunya, tetap yakin pasar EV akan stabil dan tumbuh jangka panjang. Namun, ketergantungan pada subsidi pemerintah terbukti bukan solusi berkelanjutan. Konsumen AS tampak lebih memilih fleksibilitas, termasuk opsi hybrid atau mesin konvensional yang terjangkau tanpa bantuan negara.