— Lonjakan angka kecelakaan lalu lintas yang didominasi oleh usia produktif di Indonesia kian memprihatinkan. Kondisi ini menuntut adanya langkah strategis dan integrasi pendidikan keselamatan jalan raya yang masif sejak bangku sekolah dasar. Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan, pendidikan keselamatan lalu lintas perlu masuk ke dalam kurikulum di Indonesia. Menurutnya, langkah ini menjadi krusial karena beberapa alasan fundamental untuk membangun budaya tertib berkendara sejak dini. "Perubahan perilaku tidak bisa terjadi secara instan hanya melalui penilangan di jalan raya," kata Djoko dalam keterangan resmi kepada Kompas.com, Rabu (8/7/2026). Tangkapan layar momen siswa SD berbonceng tiga di jalan raya yang berada di kawasan Cideng, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Momen tersebut terekam kamera warga dan viral pada Selasa (3/3/2026). "Dengan memasukkannya ke dalam kurikulum sekolah, etika berlalu lintas akan dipandang sebagai bagian dari norma sosial dan karakter bangsa, bukan sekadar ketakutan pada denda tilang," ujarnya. Djoko menambahkan bahwa menanamkan pemahaman ini pada anak-anak juga bisa membawa dampak positif yang lebih luas di lingkungan keluarga. "Selain itu, anak-anak yang teredukasi dengan baik kerap menjadi "pengingat" yang efektif bagi orang tua mereka saat berkendara di jalan," kata Djoko. Usia Produktif Djoko menyebut kecelakaan lalu lintas di jalan raya masih menjadi salah satu penyumbang terbesar angka fatalitas di Indonesia. Mirisnya, risiko tinggi didominasi kelompok usia muda. Berdasarkan data Korlantas Polri dan PT Jasa Raharja, angka fatalitas kecelakaan telah melampaui 100 jiwa per hari. Sebanyak 75 persen di antaranya didominasi pengguna sepeda motor. Ilustrasi kecelakaan motor. Dari jumlah tersebut, pelajar dan mahasiswa dengan rentang usia 11-25 tahun memiliki porsi paling menonjol, yakni berkisar 25 hingga 40 persen. Luar Negeri Djoko mengatakan, Indonesia bisa belajar dari mancanegara bahwa menanamkan etika berkendara sejak dini bukan sekadar mengenalkan warna lampu rambu lalu lintas. Langkah ini merupakan bentuk investasi jangka panjang demi menyelamatkan masa depan bangsa dari fatalitas di jalan raya. Di beberapa negara maju, pendidikan keselamatan lalu lintas telah diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah dengan pendekatan psikologi, dukungan infrastruktur, hingga penegakan hukum yang ketat. Kecelakaan mobil jenis Honda Brio Satya warna merah bernomor polisi DD 1722 BN, terjadi di Jalan Sam Ratulangi, tepatnya di depan Salon Tara, Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (17/5/2026) subuh sekitar pukul 03.30 WITA. Negara Sukses Bangun Budaya Keselamatan 1. Belanda: Lisensi Bersepeda (Verkeersexamen) Sebagai salah satu negara dengan sistem integrasi transportasi terbaik, Belanda mewajibkan anak-anak mengikuti Ujian Lalu Lintas Nasional. Praktik Langsung: Di tingkat sekolah dasar, siswa wajib mengikuti ujian praktik bersepeda di jalan raya yang diawasi langsung oleh polisi dan sukarelawan. Infrastruktur Edukatif: Banyak kota di Belanda menyediakan taman lalu lintas (traffic gardens). Di fasilitas ini, anak-anak bisa berlatih berkendara dalam simulasi kota kecil yang aman. 2. Jepang: Budaya Mandiri dan Omoiyari Negara Sakura menekankan pada kemandirian dan etika berkendara yang disebut Omoiyari, yaitu empati atau tenggang rasa. Sejak usia 6 tahun, anak-anak dilatih berjalan kaki ke sekolah secara berkelompok tanpa pendampingan orang tua. Hal ini secara tidak langsung mengajarkan mereka cara menyeberang dan memahami ritme lalu lintas dengan baik. Mengingat populasi lansia yang tinggi, Jepang juga menerapkan program edukasi khusus dan pembaruan lisensi yang ketat bagi pengemudi lanjut usia guna menekan angka kecelakaan. Kecelakaan truk di kawasan Gatsu arah Palmerah 3. Swedia: Visi Nol (Vision Zero) Swedia adalah pelopor konsep Vision Zero, sebuah prinsip yang menegaskan bahwa tidak ada jumlah angka kematian yang dapat ditoleransi di jalan raya. Pendidikan di Swedia menekankan bahwa manusia bisa melakukan kesalahan atau human error. Oleh karena itu, edukasi dibarengi dengan desain infrastruktur yang "memaafkan" kesalahan tersebut, seperti penggunaan pembatas jalan fleksibel dan penerapan zona kecepatan maksimal 30 km/jam. Pendidikan keselamatan jalan adalah materi wajib yang diajarkan secara spiral (berulang dengan tingkat kesulitan yang meningkat) mulai dari jenjang TK hingga SMA. 4. Jerman: Edukasi Lalu Lintas (Verkehrserziehung) Jerman menerapkan sistem yang sangat terstruktur dalam mendidik calon pengemudi maupun pejalan kaki sejak usia dini. Polisi lalu lintas di Jerman secara rutin mendatangi sekolah-sekolah untuk memberikan materi teori serta memandu simulasi bersepeda bagi siswa kelas 4 SD. Untuk mendapatkan SIM, warga Jerman harus melewati kursus teori dan praktik yang sangat mendalam, termasuk latihan di jalur cepat Autobahn dan simulasi berkendara malam hari.