Motor listrik untuk operasional Makan Bergizi Gratis (MBG), EMMO JVX GT, kembali menjadi perbincangan. Sebab, kendaraan itu disebut-sebut mirip produk China, Kollter ES1-X PRO, yang harganya jauh lebih terjangkau.Dilihat dari laman marketplace Alibaba, Senin (13/4), Kollter ES1-X PRO dibanderol Rp 10 jutaan untuk pembelian satu unit. Namun, untuk pembelian dua unit, harganya diskon menjadi hanya Rp 8 jutaan! Sementara di Indonesia, EMMO JVX GT ditawarkan seharga Rp 56 jutaan unit per unit. Jika keduanya memang motor yang sama, maka selisih harganya benar-benar jauh!Motor listrik diduga mirip EMMO JVX GT. Foto: Doc. AlibabaSecara tampilan, EMMO JVX GT dan Kollter ES1-X Pro memang terlihat mirip. Bukan hanya model yang sama-sama trail, detail lainnya juga terlihat identik. Bahkan, perbedaan keduanya hanya terletak di bagian emblem dan striping kendaraan.Selebihnya tampak sama. Mulai dari lampu, windshield, jok, rangka, spatbor hingga ke bagian ekor. Bukan hanya itu, detail kecil seperti strip ganda di area fairing, mata kucing dekat pijakan kaki, serta aksen besi di area buntut juga terlihat identik!Sayangnya, laman Alibaba tak menampilkan spesifikasi lengkap Kollter ES1-X Pro. Namun, ada keterangan singkat yang menyebut motor listrik tersebut menggunakan baterai yang sama seperti EMMO JVX GT, yakni 72V dengan jangkauan 70-80 km.Motor listrik Emmo JVX GT Foto: Dok. EmmoSejauh ini, belum ada keterangan resmi, apakah kedua produk tersebut benar-benar sama. Sebab, EMMO sendiri masih belum mau terbuka mengenai pengadaan motor MBG tersebut.Kami juga telah menghubungi Ketua Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana untuk mengonfirmasi tudingan tersebut. Namun, hingga berita ini dimuat, dia belum meresponsnya.Pengamat otomotif senior dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Pasaribu mengatakan, ada alasan utama mengapa motor listrik yang katanya buatan Indonesia punya desain mirip produk-produk China. Menurutnya, hal itu sengaja dilakukan untuk menghemat biaya produksi."Fenomena ini terjadi karena mayoritas industri motor listrik Indonesia masih bergantung pada CKD dari China, tidak mau membangun jejaring industri komponen di dalam negeri, mengejar cuan lebih cepat," ujar Yannes saat dihubungi detikOto."Alasan utama mereka standar: biaya produksi lebih rendah, akses teknologi cepat, dan memenuhi syarat e-Katalog LKPP," tambahnya.Meski demikian, Yannes mengungkap dampak buruk dari kebiasaan tersebut. Salah satunya, kata dia, bisa menghambat proses transfer teknologi."Akibatnya, pertumbuhan perakitan kita hanya akan membuat nilai tambah ekonomi Indonesia yang minim, transfer teknologi lambat, dan ketergantungan pada komponen impor dan capital flight semakin membesar," kata dia.