Pemerintah ingin melakukan konversi 120 juta sepeda motor berbahan bakar bensin menjadi motor listrik. Sebagai langkah besar menuju transportasi ramah lingkungan di Indonesia. Juru Bicara KOSMIK (komunitas sepeda/motor listrik) Indonesia, Hendro Sutono, mengatakan, di lapangan, proses konversi tidak semudah yang dibayangkan. Hendro menjelaskan, berdasarkan pengalaman di bengkel, hampir tidak ada motor bensin bekas yang bisa langsung dikonversi tanpa perbaikan menyeluruh terlebih dahulu. “Sering terjadi, dari pengalaman di lapangan, hampir tidak ada motor bensin bekas yang bisa langsung dikonversi tanpa rehabilitasi mekanis terlebih dahulu,” ujar Hendro kepada Kompas.com, Jumat (3/4/2026). Bengkel konversi motor listrik di Solo, bisa mengajukan subsidi Rp 10 juta dari pemerintah Ia menjelaskan, motor berusia lima hingga sepuluh tahun yang datang ke bengkel umumnya membutuhkan banyak penggantian komponen sekaligus. Mulai dari mika, ban, pelek, bearing, tromol, kampas rem, hingga komstir. “Ini bukan soal mesin yang mau diganti. Ini soal kelaikan dasar kendaraan yang sudah dimakan usia dan jarak tempuh. Pada titik itu, yang tersisa dari ‘motor lama’ hanyalah rangkanya,” kata dia. Menurut Hendro, kondisi tersebut membuat proses konversi menjadi lebih kompleks. Sebab, sebelum komponen listrik dipasang, seluruh bagian dasar kendaraan harus dipastikan dalam kondisi layak jalan. Bengkel konversi motor listrik murah baru dikenalkan “Hal yang rusak harus beres dulu sebelum satu komponen listrik pun boleh dipasang,” ujarnya. Ia menambahkan, setelah daftar perbaikan disusun, sering muncul pertanyaan terkait efisiensi biaya. “Ketika daftar perbaikan itu selesai ditulis, sering kali muncul pertanyaan yang sama di benak teknisi untuk apa susah-susah, kalau uang segini sudah cukup untuk beli yang baru?” kata Hendro. Karena itu, ia menilai, keberhasilan program konversi tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada implementasi di lapangan. Paket konversi motor listrik buatan Nagara. Jadi yang termurah setelah disubsidi, harga Rp 4 juta “Kebijakan yang baik bukan yang paling canggih kedengarannya. Kebijakan yang baik adalah yang paling mungkin dijalankan, paling mudah diukur, dan paling nyata hasilnya di lapangan,” ujarnya. Hendro juga menyoroti bahwa secara konsep, program konversi memang terlihat menarik karena mengusung prinsip daur ulang kendaraan. Namun kondisi di bengkel sering kali berbeda. “Program konversi mungkin terdengar inovatif dan sirkular di atas kertas. Tapi di bengkel-bengkel kecil di seluruh Indonesia, para teknisi sudah tahu jawabannya,” kata dia. “Motor tua itu, dengan segala komponen yang harus diganti satu per satu, sudah terlalu lelah untuk ditransformasi,” ujar Hendro. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang