Pasar kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia mulai mengalami pergeseran tren yang signifikan. Mobil listrik yang awalnya hanya menjadi pilihan mobil kedua atau ketiga bagi kelompok masyarakat mampu (middle-up), kini mulai berpotensi dilirik sebagai mobil pertama (first car) oleh konsumen kelas menengah. Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu mengungkapkan, berdasarkan riset pasar pada tahap awal penetrasi EV di tanah air, konsumen pembeli mobil listrik umumnya menjadikan kendaraan berbasis baterai tersebut sebagai opsi tambahan di garasi rumah mereka. Test drive Lepas E4 di GIIAS 2026 "Awalnya orang yang beli mobil listrik itu bukan mobil pertama, tapi mobil kedua atau ketiga. Artinya kelompok middle-up," ujar Yannes di GIIAS, Selasa (4/8/2026). Masuk Segmen Pasar Terbesar Yannes menjelaskan bahwa lanskap industri otomotif saat ini telah berubah seiring banyaknya pilihan mobil listrik yang bermain di rentang harga Rp 100 juta hingga Rp 400 jutaan. Segmen harga ini merupakan porsi pasar terbesar di Indonesia. Test drive Wuling Aira EV Hadirnya beragam model terjangkau dengan fitur melimpah dinilai mampu mendorong konsumen kelas menengah untuk mempertimbangkan EV sebagai mobil utama keluarga. "Sekarang ini mobil listrik sudah mulai makin banyak di range harga Rp 100 juta sampai Rp 400 jutaan. Itu segmen terbesar pasar Indonesia. Harapannya orang-orang yang membeli mobil pertama mulai masuk di kelas ini," kata Yannes. Sensitivitas Kelas Menengah Kendati demikian, Yannes menekankan adanya perbedaan karakter yang cukup mendasar antara pembeli mobil pertama kelas menengah dengan konsumen kelompok atas (upper class). Konsumen berkecukupan umumnya tidak terlalu pusing memikirkan risiko biaya purna jual maupun harga jual kembali (resale value). BYD Atto 1 di GIIAS 2026 Sebaliknya, konsumen kelas menengah sangat memperhitungkan efisiensi biaya operasional harian serta jaminan dari ketidakpastian purna jual, seperti lokasi pengisian daya, biaya penggantian baterai, hingga penyusutan harga bekas. "Kalau kelas atas enggak pusing, suka ya beli. Tapi kalau middle class ini masih mikirin itu. Jangan sampai rasa senang waktu beli berlanjut kecewa dalam perjalanannya karena ternyata biaya perawatan mahal atau begitu dijual harganya anjlok," tuturnya. Peace of Mind Kepastian efisiensi biaya operasional, kemudahan pengisian daya, serta jaminan nilai tukar tambah dinilai menjadi faktor krusial untuk menghapus rasa cemas (anxiety) calon konsumen. "Konsumen mencari efisiensi biaya operasional dan menghilangkan ketidakpastian. Jika pabrikan berani menjamin peace of mind dan melindungi nilai jualnya, konsumen tidak akan ragu menjadikan mobil listrik sebagai kendaraan utama mereka," pungkas Yannes.