Ramainya penetrasi mobil listrik asal China di Indonesia, mulai membawa dampak nyata ke sektor hilir industri otomotif, salah satunya pada bisnis aksesori alias aftermarket mobil. Menurut Ayong Jeong, CEO sekaligus Founder Kramat Motor di Jakarta Utara, penjualan komponen seperti head unit, amplifier, dan speaker kini turun tajam karena mobil listrik sudah dilengkapi sistem audio canggih bawaan pabrikan. “Untuk tiga item itu, yakni head unit, speaker, amplifier, kalau untuk EV hampir zero. Hampir tidak terjadi (penjualan),” ujar Ayong saat ditemui akhir pekan lalu. Interior Jaecoo J5 EV Ayong menjelaskan, berbeda dengan mobil konvensional, mobil listrik asal China umumnya sudah dibekali fitur hiburan yang sangat lengkap sejak keluar dari pabrik. Sistem head unit-nya sudah menyatu dengan komputer utama mobil (Electronic Control Unit/ECU), sehingga tidak bisa diganti atau dimodifikasi. “Mobil EV itu datang, speaker sudah bagus, power-nya ada, head unit-nya sudah besar-besar. Tapi head unit-nya tidak bisa diganti karena link ke ECU,” katanya. Kondisi ini membuat pasar aftermarket menurun tajam. Konsumen yang sebelumnya sering melakukan upgrade sistem suara kini memilih mempertahankan kondisi bawaan mobil, baik karena keterbatasan teknis maupun khawatir garansi akan hangus jika ada perubahan pada sistem kelistrikan. “Pemain head unit sekarang pangsanya tinggal di mobil second-hand. Bersyukur Indonesia belum menerapkan aturan scrap car, jadi mobil tua masih banyak,” ujarnya. Toyota Sienta Beyond 1.0 garapan National Modificator & Aftermarket Association (NMAA). Headunit standar tipe E Sienta, namun sistem audionya dimaksimalkan. Ia mencontohkan, pemilik mobil keluaran lama lebih memilih memperbarui sistem audio dan interior daripada menjual mobilnya. “Daripada dijual, mending audio-nya dibagusin, jok-nya dibagusin. Itu bisnis kita sekarang,” kata dia. Dengan makin sempitnya ruang di pasar audio, Ayong mengaku, pihaknya mulai menggeser fokus ke segmen lain, seperti aksesori eksterior dan perlengkapan elektronik tambahan. “Jadi mau tidak mau, main ke non-elektronik yang tidak terhubung ke ECU dan CPU, misalnya lampu, grill, body kit, sampai kamera 360 derajat,” ucapnya. Namun, persaingan di segmen itu pun tidak mudah. Banyak mobil listrik asal China yang sudah dilengkapi fitur lengkap, termasuk sistem kamera 360 dan sensor parkir. Modifikasi Denza D9 di Kramat Motor Ayong menambahkan, dampak penurunan penjualan di segmen audio aftermarket mulai terasa sejak awal 2024, seiring meningkatnya penjualan mobil listrik seperti Chery hingga BYD di Indonesia. “Sekarang penjualannya mereka gila-gilaan. Dari situ mulai terasa, bisnis aftermarket turun,” ungkapnya. Meski begitu, Ayong menilai tren ini merupakan konsekuensi logis dari kemajuan teknologi kendaraan. Industri aftermarket, menurutnya, perlu cepat beradaptasi agar tetap bertahan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.