Booth Toyota di IIMS 2024 Target penjualan mobil baru nasional sebesar 2 juta unit pada 2030 dipandang semakin sulit diwujudkan. Dalam beberapa tahun terakhir, pasar mobil baru justru menunjukkan tren stagnan, bahkan cenderung menurun. Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI, Riyanto, menyebut kondisi ini bukan sekadar siklus sementara. “Dalam waktu hampir 10 tahun terakhir, pasar mobil kita stagnan dan setelah Covid cenderung turun,” ujarnya, dikutip VIVA Otomotif Jumat 9 Januari 2026.Masalah utama yang dihadapi pasar adalah daya beli. Harga mobil baru meningkat lebih cepat dibandingkan pendapatan masyarakat secara umum. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5 persen dinilai belum cukup kuat. Pendapatan per kapita memang naik, namun lajunya tidak sebesar satu dekade sebelumnya.Tekanan paling besar dirasakan kelompok menengah. Dalam periode 2019 hingga 2024, kelompok ini justru menyusut jutaan orang. “Kelompok menengah yang tadinya sekitar 5–7 juta, sekarang turun jadi sekitar 9–10 juta orang,” kata Riyanto. Kelompok inilah yang selama ini menjadi tulang punggung penjualan mobil baru. Akibat tekanan ekonomi, perilaku konsumen ikut berubah. Penggantian mobil yang dulu dilakukan tiap 3–5 tahun kini menjadi lebih lama. Sebagian konsumen yang berpotensi menjadi pembeli pertama juga menunda keputusan. Ada pula yang mengalihkan pilihan ke mobil bekas yang lebih terjangkau.Peneliti LPEM UI Syahda Sabrina menambahkan, basis first car buyer di Indonesia relatif kecil. “Dari data Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional), hanya sekitar 13 persen rumah tangga yang belum memiliki mobil,” tuturnya.Artinya, pasar mobil baru sangat bergantung pada pembeli pengganti. Namun mayoritas konsumen yang sudah memiliki mobil justru menghadapi keterbatasan untuk membeli unit baru.Survei LPEM UI menunjukkan sebagian besar pembeli mobil lima tahun ke depan adalah replacement buyer. Jumlah yang ingin menambah mobil jauh lebih kecil.Dalam skenario tanpa intervensi kebijakan, penjualan mobil baru diperkirakan hanya mencapai sekitar 1,6 juta unit pada 2030. Angka ini masih jauh dari target pemerintah.