— Dalam beberapa pekan terakhir, media sosial dihebohkan oleh Bobibos, bahan bakar alternatif yang berbahan dasar jerami, hasil gagasan peneliti independen M Ikhlas Thamrin. Klaim bahwa Bobibos dapat menghasilkan bahan bakar dengan angka oktan 98 dan telah diuji di Lembaga Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) semakin menarik perhatian publik. Fenomena ini mengingatkan kita pada penemuan-penemuan "BBM alternatif" yang pernah viral di Indonesia, banyak di antaranya meredup setelah melewati proses verifikasi ilmiah. Kemunculan Bobibos menambah daftar panjang inovasi energi yang sempat viral di Tanah Air, mulai dari Blue Energy pada tahun 2008, bensin dari plastik, hingga Nikuba yang diklaim dapat mengubah air menjadi bahan bakar. Namun, pengalaman sebelumnya mengajarkan publik bahwa tidak semua inovasi yang mencuat di permukaan mampu bertahan dalam pengujian ilmiah. Blue Energy: Euforia yang Tak Pernah Terverifikasi Salah satu momen yang paling dikenal terjadi pada tahun 2008 ketika Joko Suprapto memperkenalkan teknologi Blue Energy kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dengan klaim bahwa bahan bakar tersebut berbasis air laut. Pengumuman ini memicu euforia nasional, namun tidak pernah diikuti oleh uji ilmiah, publikasi, atau data laboratorium yang dapat dipertanggungjawabkan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), kini menjadi BRIN, menyatakan tidak pernah menerima sampel resmi untuk diuji. Tanpa transparansi dan verifikasi, fenomena Blue Energy akhirnya meredup, dan penemunya terjerat dalam masalah hukum. Bensin dari Plastik: Secara Sains Mungkin, tetapi Tidak Sederhana Nikuba atau alat yang disebut mampu mengonversi air menjadi bahan bakar minyak untuk menggerakkan mesin kendaraan tengah mendapat sorotan. Kembali muncul fenomena serupa pada awal 2010-an ketika sejumlah video dan klaim beredar luas mengenai proses "plastik jadi bensin." Klaim ini biasanya menampilkan proses sederhana yang mengeklaim mampu mengubah sampah plastik menjadi bensin siap pakai. Dalam konteks ilmiah, plastik memang dapat diurai menjadi fraksi hidrokarbon melalui proses pirolisis. Namun, BRIN menegaskan bahwa teknologi tersebut memerlukan reaktor tertutup, kontrol suhu yang presisi, pengolahan gas buang, dan pengujian kualitas produk agar memenuhi standar keamanan. Mulyadi nilai inovasi energi alternatif seperti Bobibos bisa bantu kurangi impor BBM dan dorong kemandirian energi nasional. Versi rumahan yang sering viral justru mengabaikan aspek teknis tersebut. Oleh karena itu, meskipun konsepnya benar secara teori, "bensin plastik" yang digagas masyarakat tidak pernah berkembang menjadi solusi energi yang layak atau aman untuk skala besar. Nikuba: Dari Viralnya Klaim hingga Kesimpulan Ilmiah Pada tahun 2022, Nikuba kembali mencuri perhatian publik dengan klaim bahwa alat ini mampu mengubah air menjadi bahan bakar kendaraan bermotor. Beberapa tokoh publik mencoba alat tersebut, dan video demonstrasinya menjadi viral. Namun, kajian BRIN menunjukkan bahwa Nikuba sebenarnya hanya menghasilkan hidrogen dalam jumlah sangat kecil melalui elektrolisis, menggunakan energi listrik dari luar. Jumlah gas yang dihasilkan tidak mencukupi untuk menggerakkan mesin seperti yang ditunjukkan dalam video. Secara ilmiah, Nikuba dinyatakan tidak memenuhi klaimnya dan tidak dapat dikategorikan sebagai penemuan bahan bakar baru. Bobibos: Berbasis Jerami, Lolos Uji LEMIGAS, dan Masih Terus Dikaji Berbeda dengan kasus sebelumnya, Bobibos muncul dengan profil ilmiah yang lebih jelas. M Ikhlas Thamrin menjelaskan bahwa bahan bakar yang ia kembangkan dihasilkan dari jerami melalui proses kimia yang melibatkan serum khusus yang formula dan mekanismenya masih dirahasiakan. Melalui variasi serum ini, Bobibos diklaim dapat menghasilkan bahan bakar untuk mesin bensin maupun diesel. Bobibos telah diuji di LEMIGAS dan menghasilkan angka oktan 98 untuk varian bahan bakar bensin. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pun mengapresiasi inovasi ini sebagai contoh kreativitas anak bangsa. Meski demikian, Bobibos masih berada pada tahap awal dan belum melalui uji performa mesin, uji emisi, serta kajian ekonomis yang komprehensif. Tanggapan BRIN: Potensial, tetapi Perlu Pembuktian Sekuensial Cuk Supriyadi Ali Nandar, Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, menilai bahwa Bobibos memiliki keunggulan dibandingkan Nikuba dan Blue Energy, karena bahan bakunya—jerami—memang dapat dikonversi menjadi biofuel secara ilmiah. BRIN sendiri pernah meneliti konversi jerami menjadi etanol pada 2015–2016, namun penelitian tersebut menghadapi kendala rendemen rendah dan biaya teknologi pre-treatment yang mahal. Dalam konteks ini, Cuk menegaskan bahwa tantangan utama pemanfaatan limbah biomassa sebagai bahan bakar terletak pada efisiensi proses, kestabilan hasil, biaya produksi, dan ketersediaan rantai pasok material. Setelah produk menjadi bahan bakar, tahapan lain yang tidak kalah penting adalah memenuhi standar nasional maupun internasional serta melalui pengujian yang disetujui produsen mesin. BRIN menyatakan bahwa mereka masih berkomunikasi dengan pengembang Bobibos dan siap memberikan pendampingan untuk verifikasi dan validasi jika seluruh data teknis telah disampaikan. Sementara itu, izin edar dan mekanisme komersialisasi tetap berada di bawah kewenangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Antara Sensasi dan Sains kasus seperti Blue Energy, bensin dari plastik, hingga Nikuba menunjukkan bahwa klaim spektakuler sering muncul, namun hanya sedikit yang mampu bertahan dari proses verifikasi ilmiah. Bobibos kini berada di persimpangan: memiliki potensi yang menjanjikan, telah melalui uji laboratorium awal, namun tetap memerlukan kajian lengkap untuk memastikan bahwa inovasi ini tidak berakhir sebagai sensasi sesaat. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.