Sebagai teknologi modern yang mulai banyak digunakan masyarakat, mobil listrik masih menyisakan berbagai pertanyaan di kalangan konsumen, terutama soal baterai. Banyak pengguna kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) khawatir biaya perbaikan akan sangat mahal ketika terjadi kerusakan pada baterai, karena menduga bahwa seluruh battery pack harus langsung diganti baru meski kerusakan hanya terjadi pada sebagian kecil komponen. Sistem baterai mobil listrik memiliki struktur yang cukup kompleks. Pada mobil listrik modern, baterai terdiri dari beberapa komponen utama, mulai dari sel (cell), modul, hingga battery pack secara keseluruhan. Mahaendra Gofar, pendiri EVSafe, mengatakan, pada beberapa model mobil listrik, kerusakan masih bisa ditangani dengan penggantian modul tertentu tanpa harus mengganti seluruh battery pack. “Tergantung modelnya. Tapi biasanya yang mempunyai battery pack, modul di dalamnya bisa diganti,” kata Mahaendra kepada Kompas.com, Sabtu (23/5/2026). Ilustrasi baterai mobil listrik Ia menjelaskan, sel baterai merupakan unit terkecil penyimpan energi. Beberapa sel kemudian disusun menjadi modul, lalu sejumlah modul digabung menjadi satu battery pack yang digunakan mobil listrik. Menurut Mahaendra, penggantian satu sel baterai sebenarnya memungkinkan secara teknis, tetapi prosesnya cukup rumit dan berisiko apabila tidak dilakukan dengan prosedur yang tepat. Sebab, setiap sel harus memiliki karakteristik yang seimbang. “Risikonya adalah ketidakseimbangan tegangan, distribusi arus tidak merata, panas berlebih, umur pakai lebih pendek, dan potensi risiko keselamatan seperti thermal runaway,” ujar Mahaendra. Karena alasan tersebut, banyak teknisi maupun pabrikan lebih memilih mengganti per modul dibanding hanya satu sel. Cara ini dianggap lebih aman dan memudahkan proses penyesuaian kapasitas maupun tegangan antar sel baterai. Baterai mobil listrik buatan LG-Hyundai Sementara itu, pada beberapa mobil listrik dengan desain baterai yang sangat terintegrasi, perbaikan parsial justru semakin sulit dilakukan. Salah satunya pada teknologi cell-to-pack seperti blade battery milik BYD. “Karena blade battery menggunakan teknologi cell-to-pack tanpa modul, tidak bisa direparasi per sel. Jadi harus diganti satu pack,” kata Mahaendra. Selain faktor teknis, penggantian satu battery pack penuh juga sering dipilih pabrikan demi efisiensi waktu servis, konsistensi performa, serta alasan keselamatan dan garansi kendaraan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang