Sebagai pengendara yang sudah mencoba langsung Suzuki Access 125, saya harus mengakui satu hal bahwa motor ini bukan tipe yang menjual kecanggihan. Access 125 bukan skutik yang akan membuat orang terpukau karena fitur berlimpah atau panel instrumen serba digital. Justru sebaliknya, Access 125 terasa seperti motor yang lebih mengutamakan fungsi dibanding sensasi teknologi. Dari sisi fitur, Access 125 memang terbilang sederhana jika dibandingkan kompetitor sekelasnya. Panel spidometernya masih mengandalkan model analog dengan jarum, mengingatkan saya pada motor-motor keluaran era 2000-an hingga awal 2010-an. Test ride Suzuki Access 125 Di tengah tren layar full digital bahkan TFT berwarna, pendekatan ini terasa cukup konvensional. Namun setelah digunakan, saya mulai memahami logikanya. Informasi yang ditampilkan sebenarnya cukup lengkap. Ada odometer digital, trip A, trip B, jam, hingga indikator aki. Ada juga eco indicator yang warnanya bisa berubah-ubah tergantung gaya berkendara. Memang tidak tersedia fitur rata-rata konsumsi bahan bakar. Jadi kalau ingin mengetahui seberapa irit motor ini, saya harus menggunakan metode full to full secara manual. Test ride Suzuki Access 125 Di sisi lain, penggunaan layar analog justru punya kelebihan tersendiri. Risiko sunburn pada layar, yang sering terjadi pada panel LCD, nyaris tidak ada di sini. Dalam jangka panjang, ini bisa menjadi nilai tambah tersendiri untuk penggunaan harian. Di lain sisi, kalau melihat pasar India, versi Access 125 di sana sudah tersedia dengan panel TFT dan konektivitas Bluetooth yang memungkinkan terhubung ke smartphone. Sayangnya, untuk versi Indonesia fitur tersebut absen. Artinya, jangan berharap ada notifikasi telepon atau navigasi di layar motor ini. Test ride Suzuki Access 125 Meski minim gimmick, bukan berarti Access 125 tanpa fitur penting. Untuk kebutuhan daya gawai, Suzuki tetap menyediakan soket USB 2A. Bagi saya yang kerap mengandalkan ponsel untuk navigasi, fitur ini cukup krusial. Dari sisi keselamatan, motor ini sudah dibekali Combined Braking System (CBS). Sistem pengereman terintegrasi ini membantu distribusi pengereman lebih stabil, terutama saat melakukan pengereman mendadak di lalu lintas kota yang padat. Jantung mekanisnya juga bukan tanpa nilai jual. Access 125 menggunakan mesin SOHC 124 cc dengan teknologi Suzuki Eco Performance (SEP). Tenaganya 8,6 Tk dengan torsi 10 Nm. Test ride Suzuki Access 125 Karakter mesinnya terasa fokus pada efisiensi bahan bakar serta dorongan torsi di putaran rendah hingga menengah—tipikal kebutuhan komuter harian. Ditambah lagi ada Suzuki Easy Start System yang membuat proses menyalakan mesin lebih praktis. Soal kepraktisan, di sinilah Access 125 terasa menonjol. Bagasi bawah joknya cukup besar, sekitar 24,4 liter. face ukuran kecil bisa masuk tanpa kesulitan, dan masih ada ruang untuk barang lain. Untuk penggunaan harian seperti membawa jas hujan, tas kecil, atau perlengkapan kerja, kapasitas ini sangat membantu. Test ride Suzuki Access 125 Di bagian depan juga tersedia dua kompartemen penyimpanan yang cukup fungsional untuk botol minum atau barang kecil. Ditambah dua gantungan barang, di bawah setang dan di area depan jok, yang membuat motor ini terasa benar-benar dipikirkan untuk kebutuhan praktis. Kunci pengaman terintegrasi juga memudahkan akses ke jok dan tangki bensin, tanpa perlu repot membuka banyak bagian. Lampu depan juga sudah LED yang cukup terang saat malam hari. Secara keseluruhan, Suzuki Access 125 memang bukan motor yang mengejar label “paling canggih” di kelasnya. Skutik ini minim fitur modern yang sedang tren. Test ride Suzuki Access 125 Tetapi justru di situlah karakternya terbentuk. Motor ini lebih menekankan fungsi, kepraktisan, dan kemudahan penggunaan sehari-hari. Bagi saya, Access 125 adalah contoh bahwa tidak semua skutik harus dipenuhi teknologi rumit. Kadang, yang dibutuhkan pengguna harian hanyalah fitur yang bekerja dengan baik, sederhana, dan tahan lama. Test ride Suzuki Access 125 Kesimpulan: Plus: sudah dilengkapi soket USB 2A, bagasi luas 24,4 liter, eco indicator berubah warna sesuai gaya berkendara Minus: spidometer masih analog, tidak ada indikator rata-rata konsumsi BBM, tidak tersedia panel TFT dan koneksi bluetooth KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang