PT Toyota Astra Motor (TAM) mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan penjualan mobil murah ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC) melemah sepanjang 2025. Vice President PT TAM Henry Tanoto mengatakan, tekanan utama datang dari melemahnya daya beli masyarakat, terutama dari kalangan kelas menengah yang selama ini menjadi target utama segmen LCGC sebagai pembeli mobil pertama. “Konsumen LCGC umumnya adalah pembeli pertama. Tahun lalu terdapat tantangan di sektor pembiayaan, seperti peningkatan NPL di industri leasing, yang turut memengaruhi daya beli konsumen segmen ini,” ujar Henry di Jakarta, Senin (26/1/2026). Booth Toyota IIMS 2023 Ia menjelaskan, meningkatnya rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) membuat perusahaan pembiayaan lebih selektif dalam menyalurkan kredit kendaraan bermotor. Kondisi tersebut berdampak langsung pada calon konsumen LCGC, yang sebagian besar mengandalkan pembiayaan dalam membeli mobil. “Jadi memang customer di LCGC ini first buyer. Tahun lalu ada isu-isu di financing seperti NPL yang meningkat, sehingga memengaruhi kemampuan mereka untuk membeli kendaraan,” kata Henry. Penjualan Anjlok Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), distribusi wholesales LCGC pada Januari–Desember 2025 tercatat sebanyak 122.686 unit. Angka tersebut anjlok cukup dalam, 30,6 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 176.766 unit. Sementara itu, penjualan ritel dari diler ke konsumen membukukan 130.799 unit, atau terkoreksi sekitar 27 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Antara produk Toyota, Calya masih menjadi kontributor terbesar di segmen LCGC dengan distribusi 31.378 unit, disusul Agya yang mencatatkan pengiriman sebanyak 15.910 unit. Henry menilai, perlambatan di segmen LCGC juga tidak terlepas dari kondisi pasar otomotif nasional secara keseluruhan yang mengalami tekanan sepanjang 2025. Sepanjang tahun lalu, penjualan mobil secara wholesales tercatat mencapai 803.687 unit, turun 7,2 persen dibandingkan 2024. Penjualan ritel juga terkoreksi 6,3 persen menjadi 833.692 unit. Meski demikian, Toyota berharap pelemahan pasar pada 2025 menjadi titik terendah bagi industri otomotif nasional, termasuk segmen LCGC. “Tahun lalu kami harap sudah menjadi bottom buat market. Harapannya tahun ini dan ke depannya bisa lebih baik,” ujar Henry. Komparasi LCGC antara Toyota Agya dan Daihatsu Ayla Ia optimistis, perbaikan kondisi ekonomi dan stabilisasi industri pembiayaan akan mendorong kembali minat masyarakat terhadap mobil LCGC. “Kalau ekonomi membaik dan industri leasing lebih sehat, segmen LCGC juga berpeluang tumbuh lagi,” kata Henry. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang