Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan kembali ambisinya bahwa Indonesia harus memiliki mobil dan motor buatan dalam negeri. Menurutnya, keberadaan kendaraan nasional akan menjadi salah satu tonggak penting menuju Indonesia yang lebih hebat di masa depan. Optimisme tersebut disambut positif oleh Moeldoko, Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), yang selama ini aktif mendorong pengembangan ekosistem elektrifikasi. Mobil Anak Bangsa (MAB) membawa pikap listrik MAB SF T01 di PEVS 2025. Namun demikian, Moeldoko mengingatkan bahwa arah pembangunan mobil nasional harus tepat agar tidak mengulang model lama yang hanya mengandalkan teknologi konvensional. “Mobil nasional, ya dari awal saya juga sudah ngomong, kita itu harus punya brand nasional,” ujar Moeldoko di Jakarta, Rabu (10/12/2025). Ia menekankan bahwa perubahan dari mobil konvensional ke mobil listrik tidak boleh hanya berpindah merek luar negeri yang masuk ke Indonesia. Menurutnya, justru di era transisi teknologi ini, Indonesia memiliki ruang untuk membangun identitas otomotifnya sendiri. “Jangan sampai nanti ada perubahan dari mobil konvensional ke mobil listrik, sama saja gitu. Kalau dulu negara A, sekarang negara B, apa bedanya? Terus di mana posisi Indonesia harus memiliki brand nasional itu,” ucapnya. Bus listrik baru buatan PT Mobil Anak Bangsa (MAB) akan digunakan armada transportasi wisata Kota Semarang Moeldoko mengatakan dirinya sangat mendukung keinginan Presiden agar Indonesia mempunyai merek nasional. Ia juga menyinggung Mobil Anak Bangsa (MAB), perusahaan kendaraan listrik yang ia pimpin, sebagai salah satu contoh merek lokal yang dibangun dari nol melalui proses panjang dan penuh tantangan. “Saya sangat senang kalau Indonesia memiliki brand nasional. Walaupun MAB juga mungkin satu-satunya. Kita dengan segala apa itu, susah payahnya kita membangun ini,” katanya. Prototipe Metropod buatan PT Mobil Anak Bangsa dipamerkan di ajang Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) 2022 di JIExpo Kemayoran, Rabu (27/7/2022). Prototipe kendaraan listrik mungil yang dijadikan kendaraan feeder ditargetkan bakal masuk jalur produksi massal di tahun depan. Meski begitu, ia berharap arah pembangunan merek nasional benar-benar menyasar teknologi masa depan, bukan justru kembali pada mesin pembakaran internal (ICE). “Tapi kita apresiasi kalau kita punya brand nasional. Tapi harapan kita juga mestinya tidak lagi menuju ke ICE. Lebih ke listrik, yang berat. Karena trennya memang dunia menuju ke sana. Jangan kita membangun yang ICE,” kata Moeldoko. Menurutnya, mustahil bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan di pasar mobil berbahan bakar minyak yang sudah didominasi pabrikan global selama puluhan tahun. Ketua Periklindo Moeldoko Namun, situasinya berbeda jika Indonesia sejak awal mengambil posisi dengan memiliki merek sendiri. “Kita nggak bisa mengejar kondisi ICE seperti ini. Tapi sebenarnya kalau dari awal kita punya brand nasional, Indonesia ini, kita masih punya daya tawar dengan pabrikan besar. Tapi kita sudah sedikit terlambat,” ujarnya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang