JAKARTA, KOMPAS.com - Penjualan kendaraan roda empat atau lebih di Indonesia kini berada di posisi kedua di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) setelah disalip Malaysia sepanjang 2025. Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Putu Juli Ardika, mengatakan dinamika pasar otomotif di kawasan sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah masing-masing negara. Menurut dia, perubahan kebijakan dapat berdampak langsung terhadap kinerja penjualan di setiap pasar. Ilustrasi penjualan mobil Oleh karena itu, tidak mengherankan bila dalam beberapa tahun terakhir terjadi pergeseran posisi antarnegara di kawasan ASEAN. “Kalau kita lihat di ASEAN, memang ada negara yang naik dan ada juga yang turun. Dari kami di Gaikindo, itu sangat tergantung pada kebijakan pemerintah yang precise dan terukur,” ujar Putu kepada Kompas.com, belum lama ini. Ia pun mengakui bahwa saat ini posisi Indonesia berada di bawah Malaysia dari sisi penjualan mobil tahunan. Padahal sebelumnya pasar otomotif nasional selalu menempati posisi teratas jauh melebihi negara lain di ASEAN. “Kalau kita berbicara Malaysia, memang dia tumbuh dan mengalahkan kita. Sekarang kita jadi nomor dua. Salah satunya, karena memang daya beli kita yang melambat tahun lalu,” kata Putu. Berdasarkan data ASEAN Automotive Federation (AAF) yang diperoleh redaksi, penjualan mobil di Malaysia sepanjang 2025 mencapai 820.752 unit, naik sekitar 0,5 persen dibanding 2024 yang tercatat 816.747 unit. Sementara itu, penjualan mobil di Indonesia pada 2025 tercatat 803.687 unit, turun sekitar 7,2 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 865.720 unit. Adapun Thailand yang sebelumnya kerap menempati posisi kedua pasar otomotif di kawasan kini berada di peringkat tiga dengan penjualan 604.755 unit. Angka tersebut hanya terpaut tipis dari Vietnam yang mencatat 604.134 unit pada 2025. Jika dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 304.142 unit, penjualan mobil di kawasan ini melonjak sekitar 98,6 persen. Meski begitu, Putu menilai fondasi industri otomotif nasional sebenarnya masih cukup kuat. Berbagai program yang telah berjalan, seperti peningkatan kandungan lokal dalam produksi kendaraan, dinilai berperan penting memperkuat sektor manufaktur otomotif. “Program yang ada sebenarnya sudah cukup bagus, termasuk peningkatan kandungan lokal atau TKDN. Ini penting karena di situlah nilai tambah industri kita,” ujar Putu. China merupakan salah satu negara dengan penjualan mobil elektrifikasi terbesar di dunia. Menurut dia, yang paling penting saat ini adalah menjaga ekosistem industri kendaraan bermotor nasional agar tetap kuat dan berkelanjutan. Dengan ekosistem yang terjaga, industri otomotif nasional diharapkan dapat terus memberikan nilai tambah bagi perekonomian sekaligus menjaga keberlanjutan lapangan pekerjaan di sektor manufaktur. “Yang sangat dibutuhkan saat ini bagaimana ekosistem industri kendaraan bermotor bisa dijaga dan ditingkatkan. Sebab di sinilah nilai tambahnya, termasuk bagi industri komponen dan tenaga kerja,” kata Putu. Berikut data penjualan mobil di ASEAN pada 2025: Malaysia – 820.752 unit Indonesia – 803.687 unit Thailand – 604.755 unit Vietnam – 604.134 unit Filipina – 491.395 unit Singapura – 62.671 unit Myanmar – 3.150 unit Berikut data penjualan mobil di ASEAN pada 2024: Indonesia – 865.720 unit Malaysia – 816.747 unit Thailand – 562.954 unit Filipina – 467.253 unit Vietnam – 304.142 unit Singapura – 52.828 unit Myanmar – 4.311 unit KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang