JAKARTA, KOMPAS.com - PT Astra International Tbk (ASII) melaporkan bahwa kinerja keuangan grup sepanjang tahun 2025 melambat sekitar 3 persen dari Rp 33,9 triliun menjadi Rp 32,8 triliun. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh melemahnya pasar otomotif nasional serta turunnya kontribusi dari bisnis batu bara. Sejalan dengan itu, pendapatan bersih konsolidasian Astra juga terkoreksi tipis 2 persen secara tahunan menjadi Rp 323,4 triliun. Ilustrasi booth Toyota di IIMS 2026 Meski demikian, kinerja grup tetap terjaga berkat kontribusi dari berbagai lini usaha. "Pada 2025, laba Grup mengalami penurunan terutama disebabkan harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru. Namun, kinerja bisnis Grup tetap resilien didukung oleh kontribusi yang baik dari bisnis-bisnis lainnya," kata Presiden Direktur ASII, Djony Bunarto Tjondro dalam laporan keuangan perseroan, Kamis (26/2/2026). Secara sektoral, divisi Otomotif dan Mobilitas masih menjadi kontributor terbesar dengan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 11,4 triliun, relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 11,36 triliun. Ketahanan kinerja tersebut ditopang oleh bisnis sepeda motor dan komponen, meskipun volume penjualan mobil mengalami penurunan di tengah melemahnya permintaan pasar domestik. Kondisi itu tecermin dari penjualan kendaraan secara nasional yang turun sekitar 7 persen menjadi sekitar 804.000 unit sepanjang 2025. Sebelas hari Telkomsel IIMS 2019 penjualan motor mencapai 2.640 unit. Di tengah kondisi tersebut, Astra mencatat penjualan sebanyak 803.691 unit dengan pangsa pasar 51 persen. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan 2024 yang mencapai 865.362 unit dengan penguasaan pasar sebesar 56 persen. Penjualan grup masih ditopang oleh merek utama. Kontribusi terbesar berasal dari Toyota dan Lexus dengan total penjualan 251.954 unit, diikuti Daihatsu sebanyak 130.677 unit, serta Isuzu dan UD Trucks di segmen kendaraan niaga. Sementara itu, penjualan sepeda motor nasional justru meningkat 1 persen menjadi 6,4 juta unit pada 2025. Pangsa pasar PT Astra Honda Motor (AHM) tetap stabil di level 78 persen. mobil yang menunggu untuk diekspor di sebuah pelabuhan di China. Selain penjualan kendaraan baru, sejumlah lini usaha yang masih terkait langsung dengan ekosistem otomotif juga mencatatkan kinerja positif. Bisnis komponen melalui Astra Otoparts membukukan peningkatan laba bersih sebesar 18 persen menjadi Rp 1,8 triliun. Kemudian, bisnis solusi transportasi dan logistik melalui Serasi Autoraya mencatat jumlah unit kontrak meningkat 3 persen menjadi 28.400 unit. Adapun platform mobil bekas OLXmobbi mencatatkan penjualan tumbuh 21 persen menjadi 33.100 unit. Peningkatan ini mencerminkan pergeseran sebagian permintaan ke pasar mobil bekas di tengah melemahnya daya beli untuk kendaraan baru. Inspeksi kendaraan yang dilakukan OLXmobbi di GIIAS 2025 Di luar ekosistem otomotif, kontribusi bisnis lain juga membantu menjaga ketahanan kinerja grup. Divisi jasa keuangan mencatat laba bersih sebesar Rp 9 triliun atau tumbuh 9 persen. Sebaliknya, segmen alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi mengalami penurunan laba sebesar 24 persen akibat melemahnya harga batu bara. Di sisi lain, divisi agribisnis, infrastruktur, teknologi informasi, dan properti mencatat pertumbuhan kinerja. Diversifikasi bisnis ini menjadi salah satu faktor yang membuat Astra tetap resilien di tengah tekanan pada sektor otomotif dan komoditas. "Ke depan, meskipun kondisi operasional pada beberapa bisnis kami masih tetap menantang, kami memperkirakan sentimen konsumen secara keseluruhan akan membaik," kata Djony. "Astra akan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan alokasi modal yang disiplin, dengan memanfaatkan posisi neraca Astra yang kuat untuk mendukung penciptaan nilai yang berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan," ucap dia. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang