Komunitas sopir truk. Menurut Wildan, hingga saat ini Indonesia belum memiliki sekolah pengemudi profesional yang terstruktur seperti halnya di sektor penerbangan atau pelayaran. Padahal, pengemudi kendaraan niaga memegang peran vital dalam menjaga keselamatan operasional transportasi. GULIR UNTUK LANJUT BACA “Di Indonesia belum ada sekolah pengemudi yang benar-benar formal dan terstruktur. Yang ada masih sebatas kursus, belum sampai pada sistem pendidikan,” ujarnya belum lama ini di Jakarta.Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia di sektor transportasi darat. Bahkan dalam proses seleksi pengemudi di salah satu perusahaan besar, hasilnya cukup mengejutkan.Wildan mengungkapkan, dirinya pernah diminta menyeleksi 120 pengemudi terbaik dari ribuan kandidat yang dimiliki perusahaan tersebut. Para pengemudi ini rencananya akan dipilih kembali menjadi 20 orang untuk mengikuti pelatihan di Jepang.Namun, dalam proses seleksi tersebut ditemukan bahwa sebagian besar kandidat belum memahami hal-hal mendasar terkait kendaraan yang mereka operasikan.“Untuk mencari 120 orang saja sangat sulit. Banyak yang belum paham sistem rem, belum memahami cara kerja kendaraan, bahkan tidak bisa membedakan jenis-jenis sistem pengereman,” kata dia.Padahal, pemahaman dasar seperti sistem rem, penggunaan transmisi, hingga pengenalan torsi dan putaran mesin (RPM) merupakan kompetensi wajib bagi pengemudi kendaraan niaga. Minimnya pemahaman ini berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan di jalan.Wildan menilai, masalah ini bukan semata kesalahan individu, melainkan akibat dari tidak adanya sistem pendidikan yang membentuk kompetensi sejak awal. Berbeda dengan profesi pilot atau pelaut yang memiliki jenjang pendidikan dan sertifikasi ketat, pengemudi di sektor darat cenderung mengandalkan pengalaman tanpa standar baku.“Kalau di penerbangan atau pelayaran, semua jelas. Ada sekolah, ada sertifikasi, ada jenjangnya. Sementara di darat, kita belum punya itu,” ujarnya.Dampaknya tidak hanya pada aspek keselamatan, tetapi juga efisiensi operasional perusahaan. Pengemudi yang tidak terlatih berpotensi menyebabkan pemborosan bahan bakar, mempercepat kerusakan kendaraan, hingga meningkatkan biaya perawatan.Dalam beberapa kasus, perusahaan yang mulai menerapkan pelatihan intensif bagi pengemudi justru mampu menekan biaya operasional secara signifikan, sekaligus meningkatkan keselamatan.Karena itu, KNKT mendorong para operator transportasi untuk mulai berinvestasi dalam pelatihan pengemudi secara lebih serius. Langkah ini dinilai sebagai solusi jangka pendek sambil menunggu terbentuknya sistem pendidikan formal yang lebih komprehensif.Di sisi lain, inisiatif dari sejumlah pihak untuk membangun akademi pengemudi mulai bermunculan. Meski masih terbatas, langkah tersebut dinilai sebagai sinyal positif untuk memperbaiki kualitas SDM di sektor transportasi darat. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Ke depan, keberadaan sekolah pengemudi profesional menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa sistem pendidikan yang jelas, upaya meningkatkan keselamatan transportasi dikhawatirkan akan terus menghadapi tantangan yang sama.“Kalau tidak dimulai sekarang, kita akan terus menghadapi masalah yang sama,” kata Wildan.