Jarak tempuh menjadi salah satu pertimbangan utama konsumen ketika memilih mobil listrik. Angka tersebut umumnya tercantum dalam brosur maupun materi promosi kendaraan. Namun, konsumen perlu memahami bahwa jarak tempuh yang dicantumkan pabrikan merupakan hasil pengujian dengan standar dan kondisi tertentu. Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, perbedaan antara angka pada brosur dengan penggunaan sehari-hari tidak serta-merta menunjukkan adanya informasi yang menyesatkan dari pabrikan. "Kekecewaan konsumen itu wajar, tetapi sumbernya bukan kebohongan pabrikan, melainkan angka yang benar secara teknis, namun tidak berguna untuk merencanakan perjalanan. Selisihnya perlu dilihat secara lebih masuk akal," ujar Yannes, saat dihubungi Kompas.com belum lama ini. Test drive Wuling Aira EV Bukan Angka Mutlak Menurut Yannes, angka jarak tempuh pada kendaraan listrik sebaiknya tidak dipahami sebagai jarak yang pasti dapat dicapai dalam seluruh kondisi berkendara. Perbedaan metode pengujian membuat satu mobil bisa memiliki angka jarak tempuh berbeda tergantung standar yang digunakan. Karena itu, konsumen perlu melihat standar pengujian yang menjadi dasar klaim tersebut. "Pertama, standar ujinya, karena New European Driving Cycle (NEDC) dan China Light-Duty Vehicle Test Cycle (CLTC) yang banyak dipakai jauh lebih longgar daripada Worldwide Harmonised Light Vehicle Test Procedure (WLTP) atau standar Environmental Protection Agency (EPA) Amerika Serikat," kata Yannes. Di Indonesia, sejumlah mobil listrik yang dipasarkan menggunakan standar seperti NEDC maupun CLTC. Sebagai contoh, sejumlah model yang tercatat di pasar Indonesia memiliki klaim jarak tempuh berbasis NEDC atau CLTC, sementara model lainnya menggunakan WLTP. Test Drive VinFast MPV 7 "Sehingga, klaim 400 km secara kasar setara sekitar 320 km pada basis WLTP, bukan janji bahwa mobil pasti menempuh 400 km dalam semua kondisi. Artinya, membandingkan angka jarak tempuh antarmobil hanya berdasarkan jumlah kilometer tanpa melihat standar pengujiannya bisa menghasilkan persepsi yang kurang tepat. Kondisi Berkendara Ikut Menentukan Selain metode pengujian, kondisi penggunaan juga berpengaruh terhadap jarak tempuh mobil listrik. test drive iCar V23 di jalan tol "Kedua, ketika dipakai di Indonesia dengan AC menyala, kecepatan tinggi di tol, membawa penumpang dan barang dalam jumlah banyak, serta menghadapi tanjakan atau kemacetan, jarak tempuh nyata tentunya bisa lebih pendek," ujarnya. Penggunaan AC, kecepatan kendaraan, jumlah penumpang dan barang, kondisi jalan, hingga kontur perjalanan dapat memengaruhi konsumsi energi. Kondisi tersebut membuat jarak tempuh aktual yang dirasakan konsumen bisa berbeda dengan angka yang tercantum pada brosur. Karena itu, konsumen yang biasa melakukan perjalanan jauh sebaiknya tidak hanya melihat angka jarak tempuh maksimum. Pola perjalanan sehari-hari dan kondisi penggunaan mobil juga perlu diperhitungkan. Dengan begitu, angka pada brosur dapat digunakan sebagai referensi awal, bukan sebagai jaminan bahwa kendaraan akan selalu menempuh jarak tersebut dalam kondisi nyata.