Truk Hino tipe 700 Profia. Dalam pemaparan Investigator Senior Komite Nasional Keselamatan Transportasi, Ahmad Wildan menyebutkan bahwa kecelakaan seperti rem blong sejatinya bukan semata persoalan teknis, melainkan kegagalan dalam mengelola risiko. GULIR UNTUK LANJUT BACA Secara definisi, keselamatan adalah kondisi di mana seseorang terhindar dari risiko. Sementara risiko sendiri merupakan peluang seseorang terpapar bahaya. Artinya, upaya keselamatan tidak berhenti pada penanganan kecelakaan, tetapi dimulai dari kemampuan mengidentifikasi potensi bahaya dan mengendalikannya sejak awal.Dalam sistem manajemen keselamatan (SMK), terdapat lima faktor utama yang memengaruhi risiko kecelakaan, yakni pengemudi, kendaraan, lintasan, muatan, serta penanganan kondisi darurat. Namun dari kelima faktor tersebut, pengemudi dan kendaraan disebut sebagai kunci utama.Hasil investigasi KNKT menunjukkan bahwa kasus rem blong umumnya disebabkan oleh dua hal, yaitu kesalahan penggunaan transmisi oleh pengemudi serta malfungsi pada sistem pengereman.“Ini sebenarnya kecelakaan yang tidak perlu terjadi,” ujar Wildan di Kemayoran, Jakarta.Perbandingan dengan negara lain memperlihatkan kesenjangan yang signifikan. Di Amerika Serikat, kasus rem blong hanya terjadi sekitar satu kali dalam setahun. Di Jepang, bahkan hanya sekali dalam lima tahun. Sementara di Indonesia, jumlahnya bisa mencapai 5.000 hingga 6.000 kasus per tahun.Kondisi ini menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam sistem keselamatan transportasi darat, terutama pada aspek kompetensi sumber daya manusia.Peran pengemudi menjadi sangat krusial. Pelatihan yang tepat, mulai dari teknik berkendara, pemahaman torsi dan RPM, hingga prosedur pemeriksaan kendaraan sebelum operasional, terbukti mampu menekan biaya operasional secara signifikan.Dalam sebuah kasus, perusahaan yang rutin melatih pengemudinya mampu menurunkan biaya perawatan dari sekitar Rp 3 miliar per tahun menjadi hanya Rp 900 juta. Efisiensi juga terjadi pada konsumsi bahan bakar.Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar pengemudi di Indonesia belum mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang memadai. Bahkan dalam proses seleksi pengemudi terbaik di sebuah perusahaan besar, ditemukan bahwa banyak yang belum memahami dasar-dasar sistem pengereman.Masalah serupa juga terjadi pada sisi mekanik. Minimnya kompetensi teknisi berdampak langsung pada kualitas perawatan kendaraan. Dalam audit terhadap sebuah perusahaan besar, ditemukan bahwa pemborosan biaya dan tingginya risiko kecelakaan berakar dari ketidakmampuan mekanik memahami sistem dasar kendaraan.Kondisi ini diperparah oleh belum adanya sistem pendidikan formal yang terstruktur untuk pengemudi dan mekanik di sektor transportasi darat. Berbeda dengan sektor penerbangan atau pelayaran yang memiliki standar sertifikasi ketat, sektor transportasi darat masih cenderung mengandalkan pengalaman tanpa standar kompetensi yang jelas.Padahal, keberadaan sistem pelatihan dan sertifikasi dinilai menjadi fondasi utama dalam membangun keselamatan transportasi.Sejalan dengan itu, pihak industri juga mulai menekankan pentingnya peningkatan kompetensi sumber daya manusia sebagai bagian dari investasi jangka panjang.Dalam kesempatan yang sama, Training Division Head PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI), Pieter Andre menegaskan pelatihan pengemudi dan manajemen perawatan kendaraan dinilai menjadi elemen penting dalam menciptakan sistem transportasi yang lebih aman dan efisien.“Pengemudi kendaraan niaga memiliki tanggung jawab besar. Pelatihan yang berkelanjutan akan meningkatkan kompetensi, kesadaran keselamatan, serta efisiensi berkendara. Selain itu, manajemen perawatan kendaraan yang baik memastikan kendaraan selalu laik jalan dan fitur keselamatan bekerja optimal,” ujar Pieter. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Upaya perbaikan mulai terlihat dari sejumlah operator yang berinisiatif meningkatkan kompetensi SDM, baik melalui pelatihan internal maupun pembentukan akademi. Langkah ini dinilai penting tidak hanya untuk meningkatkan keselamatan, tetapi juga efisiensi operasional perusahaan.Ke depan, dorongan untuk membangun sistem pendidikan dan pelatihan yang lebih terstruktur bagi pengemudi dan mekanik diharapkan menjadi kunci dalam menekan angka kecelakaan yang sebenarnya bisa dihindari.