Jarak tempuh menjadi salah satu pertimbangan konsumen sebelum membeli motor listrik. Pasalnya, berbeda dengan motor bensin yang bisa diisi ulang di banyak stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), penggunaan motor listrik bergantung pada ketersediaan daya baterai dan akses pengisian daya. Kebutuhan jarak tempuh setiap pengendara juga berbeda sehingga masih ada keranguan mengenai jarak tempuh alias range anxiety. Rahman, pemilik Alva N3 Next Gen menunjukkan bahwa jarak tempuh yang diklaim pabrikan bisa memenuhi kebutuhan mobilitas harian, bergantung pada rute dan pola pemakaian. "Untuk gambaran rute saya untuk pemakaian itu dari Bintaro ke Pulomas yang memakan jarak sekitar 30 km-35 km sekali jalan, jadi tiap hari kurang lebih bisa di 65 km-70 km," katanya kepada Kompas.com, Rabu (7/10/2026). "Untuk Alva N3 Next Gen sendiri, klaim jarak tempuhnya mencapai 140 km," kata Rahman. Alva N3 Next Gen "Jarak tersebut lebih dari cukup untuk pemakaian di dalam kota. Saya sudah bisa menempuh perjalanan dari Tangerang Selatan ke Jakarta Timur, lalu kembali ke Tangerang Selatan, dengan sisa baterai sekitar 15 persen," ujarnya. Rahman menambahkan, bentuk motornya juga seperti motor bebek pada umumnya, termasuk posisi kaki yang menurutnya serupa Honda Vario. "Bobot motor yang tidak terlalu berat dan dimensinya yang ramping juga memudahkan saya bermanuver di dalam kota," kata Rahman. "Dengan klaim kecepatan maksimum 80 kpj, menurut saya, itu sudah lebih dari cukup. Meski demikian, dalam pemakaian aktual, kecepatan maksimumnya bisa mencapai 88 kpj," ujarnya. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa jarak tempuh motor listrik yang diklaim mencapai 140 km dapat mendukung perjalanan dalam kota. Baterai motor listrik Gesits Raya G, yang jadi salah satu contoh baterai litium. Berapa yang ideal? Pandangan serupa mengenai kebutuhan jarak tempuh juga disampaikan Jajang, warga Bandung, Jawa Barat. Meski belum punya motor listrik, ia mulai tertarik beralih salah satunya karena harga bensin yang dinilai semakin sulit dijangkau. “Sekarang, jujur tertarik. Harga bensin kan sudah naik, jadi agak lebih tidak terjangkau. Saya sekarang juga sepedaan," kata Jajang. "Sepeda saja sudah jadi opsi, apalagi motor listrik yang notabene sebenarnya seperti motor biasa,” ujar Jajang. Menurut Jajang, motor listrik mulai masuk dalam pertimbangannya karena bisa digunakan untuk aktivitas sehari-hari, terutama perjalanan dengan jarak yang tidak terlalu jauh. “100 kilometer juga sudah cukup, untuk bolak-balik rumah-kantor dan nongkrong,” katanya. Bagi pengguna dengan pola perjalanan seperti itu, motor listrik berjarak tempuh 100 km bisa menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan. Terlebih, apabila jarak perjalanan harian relatif konsisten dan pengisian daya dapat dilakukan di rumah atau lokasi yang mudah dijangkau. VinFast Evo dirancang dengan dimensi yang ringkas untuk memudahkan pengendara bermanuver di tengah kemacetan lalu lintas perkotaan. Motor bensin Meski mulai melirik motor listrik, Jajang belum berencana sepenuhnya meninggalkan motor bensin. Menurut dia, kendaraan dengan mesin pembakaran internal masih relevan untuk perjalanan yang lebih jauh. “Tapi mungkin motor bensin itu bakal keluarnya tidak selalu. Biasanya perjalanan jauh pakai motor bensin,” ucapnya. Motor listrik bisa digunakan untuk perjalanan harian, sedangkan motor bensin tetap menjadi alternatif untuk perjalanan jauh, terutama ketika akses pengisian daya di sepanjang rute belum tentu mudah. Di sisi lain, motor listrik dengan jarak tempuh lebih panjang juga dapat digunakan untuk perjalanan yang lebih beragam. Namun perlu mempertimbangkan waktu pengisian baterai, ketersediaan fasilitas pengisian daya, serta jarak antarlokasi pengisian.