Praktik manipulasi odometer masih menjadi salah satu risiko tersembunyi dalam transaksi mobil bekas. Di tengah semakin canggihnya teknologi kendaraan, angka kilometer yang tertera di panel instrumen belum tentu mencerminkan kondisi penggunaan sebenarnya. Masalahnya, membuktikan adanya manipulasi tersebut bukan perkara sederhana. Bahkan, pendekatan yang hanya mengandalkan kondisi fisik kendaraan dinilai tidak cukup kuat. Pemilik jasa inspeksi mobil bekas Otospector, Jeffrey Andika, mengatakan bahwa indikator seperti setir aus atau pedal yang mulai menipis tidak bisa dijadikan dasar utama. “Kalau cuma lihat setir botak atau pedal aus, itu belum bisa jadi bukti. Kita tidak bisa langsung bilang odometer dimanipulasi,” ujar Jeffrey di Jakarta Utara, Kamis (4/5/2026). Menurut dia, pendekatan yang lebih relevan justru datang dari penelusuran data historis kendaraan, khususnya riwayat servis di bengkel resmi. Data tersebut dianggap lebih objektif karena mencatat perjalanan penggunaan mobil dari waktu ke waktu. Dalam praktiknya, tim inspeksi akan mengumpulkan berbagai indikasi di lapangan, lalu mencocokkannya dengan catatan servis yang tersedia. Ketidaksesuaian antara angka kilometer saat ini dengan data sebelumnya bisa menjadi sinyal adanya kejanggalan. Odometer rendah pada mobil bekas tak menjamin kualitas. “Misalnya sekarang odometer menunjukkan 47 ribu kilometer, tapi di data bengkel resmi sebelumnya tercatat sudah lebih tinggi, itu jadi indikasi kuat,” kata dia. Meski demikian, Jeffrey menegaskan bahwa pihaknya tidak serta-merta menyimpulkan adanya manipulasi. Laporan yang disusun hanya menyajikan data pembanding agar konsumen dapat menilai sendiri tingkat kewajarannya. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga objektivitas, sekaligus menghindari kesimpulan yang tidak didukung bukti kuat. Apalagi, tidak semua kendaraan memiliki riwayat servis yang lengkap dan terdokumentasi dengan baik. Karena itu, calon pembeli disarankan tidak hanya terpaku pada angka odometer atau tampilan fisik kendaraan. Riwayat servis menjadi salah satu faktor krusial yang perlu diperiksa guna meminimalkan potensi kerugian di kemudian hari. Di tengah maraknya jual beli mobil bekas, transparansi data dinilai penting dalam membangun kepercayaan antara penjual dan pembeli. Tanpa itu, risiko mendapatkan kendaraan dengan informasi yang tidak akurat masih akan terus menghantui pasar. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang