Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter tidak hanya berdampak pada biaya operasional kendaraan, tetapi juga mulai memengaruhi keputusan konsumen dalam membeli mobil baru. PT Eurokars Motor Indonesia (EMI) mengakui sebagian calon pembeli Mazda memilih menunda transaksi setelah harga BBM naik. Chief Operating Officer (COO) PT Eurokars Motor Indonesia sekaligus Presiden Direktur Mazda Indonesia Ricky Thio mengatakan, perubahan harga BBM dalam jumlah signifikan hampir pasti memengaruhi psikologis konsumen. Diler Mazda Pluit "Tentunya pasti konsumen kami ada yang tanya, ada yang pikir-pikir, tapi kan tugas kami adalah memberikan jawaban mungkin dari value-value yang beda," kata Ricky di Jakarta (15/7/2026). Menurut dia, tidak realistis jika pelaku industri menganggap kenaikan harga BBM tidak memberikan dampak terhadap pasar otomotif. "Jadi, saya rasa bohong ya kalau misalnya ada pergerakan yang cukup besar di market atau di masyarakat tidak memberikan impact apa-apa, itu artinya bohong sih,” ucap Ricky. Booth Mazda di GIIAS 2025 tidak menampilkan hatchback Mazda2. Ada Konsumen yang Menunda Pembelian Meski mengakui adanya pengaruh, Ricky menilai dampaknya masih dalam batas yang dapat dikelola perusahaan. Mazda berupaya menjaga kepercayaan konsumen dengan menawarkan nilai tambah yang dimiliki produknya. "Tapi bagaimana cara kita me-manage itu aja sih. Bagaimana kita bisa tetap stable,” kata dia. Ricky juga mengungkapkan bahwa sudah ada sejumlah calon konsumen yang memutuskan menunda pembelian kendaraan setelah kenaikan harga Pertamax. "Ada (pengaruh). Ada 1-2 konsumen (menunda beli) pasti ada. Enggak mungkin sama sekali enggak ada,” ujarnya. Ilustrasi SPBU Pertamina, harga BBM Pertamina terbaru, harga BBM hari ini. Harga Pertamax Naik Lebih dari Rp 3.900 Sebagai informasi, harga Pertamax (RON 92) saat ini dipatok Rp 16.250 per liter, berlaku sejak 10 Juni 2026. Sebelumnya, BBM nonsubsidi tersebut dijual dengan harga Rp 12.300 per liter. Kenaikan lebih dari Rp 3.900 per liter tersebut dilakukan sebagai penyesuaian terhadap pergerakan harga minyak mentah dunia. Bagi konsumen kendaraan, terutama pemilik mobil yang direkomendasikan menggunakan bensin beroktan tinggi, kenaikan harga ini berpotensi meningkatkan biaya operasional harian. Kondisi tersebut dinilai turut memengaruhi pertimbangan masyarakat sebelum memutuskan membeli kendaraan baru, termasuk di segmen premium seperti Mazda.