PT Eurokars Motor Indonesia (EMI) menjadikan Mazda CX-30 sebagai model pertama yang dirakit di pabrik baru Mazda Indonesia di Citereup, Bogor, Jawa Barat. Chief Operating Officer (COO) PT Eurokars Motor Indonesia sekaligus Presiden Direktur Mazda Indonesia Ricky Thio menjelaskan, keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan siklus hidup produk hingga potensi penjualan. "Merencanakan local assembling itu memerlukan waktu yang panjang. Kami harus memilih model yang umurnya masih panjang. Sebab persiapannya tidak bisa instan, mulai dari packing, parts arrangement, sampai seluruh proses produksi membutuhkan waktu yang cukup lama," ujar Ricky di Bogor, Selasa (28/7/2026). 30 hasil produksi lokal Bukan CX-5 Sebaliknya, Mazda tidak memilih CX-5 karena model tersebut dalam waktu dekat akan memasuki fase pembaruan atau facelift. Dengan siklus produk yang segera berganti, model ini dinilai kurang ideal untuk masuk proses perakitan kendati penjualannya lebih besar. "Karena itu dipilih CX-30. Desainnya masih generasi ketujuh, umurnya masih panjang dan bukan model yang sudah mendekati akhir masa edar," kata Ricky. Ia juga menambahkan, keputusan menentukan model yang akan dirakit tidak bisa dilakukan secara mendadak. Seluruh persiapan produksi harus disusun jauh hari sehingga perusahaan harus memastikan model yang dipilih masih memiliki prospek jangka panjang. "Kita juga tidak memilik CX-80, misalnya, karena dari segi market sangat terbatas. Jadi memang CX-30 ini pilihan yang ideal," ujar dia. "Meski begitu, secara perlahan kita akan terus berkembang termasuk menambah model yang dirakit secara lokal," lanjut Ricky. Mazda CX-30 hasil produksi lokal Pabrik Perakitan Mazda Indonesia Plant berdiri di atas lahan seluas 6,2 hektar dengan kapasitas produksi mencapai 5.700 unit per tahun. Pabrik tersebut mengadopsi standar manufaktur global Mazda dengan delapan area utama, mulai dari penerimaan komponen terurai, lini perakitan, inspeksi kualitas, lintasan pengujian kendaraan (test track), water leak test, hingga area penyimpanan kendaraan jadi (stockyard). Seluruh proses produksi juga terintegrasi dengan sistem digital untuk memastikan ketertelusuran setiap unit yang dirakit. Tak hanya itu, setiap kendaraan akan melalui serangkaian audit kualitas, mulai dari process audit, product audit, Mazda Quality Index for Customer (MQIC), hingga audit pihak ketiga. Mazda juga menerapkan filosofi Monozukuri dan Takumi Craftsmanship dengan target zero defect, sehingga kendaraan rakitan Indonesia diklaim memiliki kualitas yang sama dengan produk Mazda dari Jepang. "Jadi apa yang didapat konsumen dari produksi dalam negeri tidak akan berbeda dengan hasil produksi Mazda Motor Corporation di Hiroshima," kata Ricky.