Pasar mobil listrik di Indonesia kini tak lagi didominasi unit baru. Seiring meningkatnya adopsi kendaraan listrik, pilihan mobil listrik bekas pun semakin beragam dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Kondisi ini membuat banyak konsumen mulai melirik pasar bekas sebagai pintu masuk untuk mencoba kendaraan ramah lingkungan tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. Ketua Umum Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (Koleksi), Arwani Hidayat, menilai mobil listrik bekas sejatinya tetap layak dibeli selama konsumen memahami aspek krusial yang harus diperiksa. SOH Baterai Menurutnya, penurunan harga mobil listrik bekas saat ini wajar terjadi karena kehadiran model-model baru yang lebih canggih dan kompetitif. Hal tersebut justru membuka peluang bagi calon pembeli dengan bujet terbatas. “Mobil listrik bekas itu enggak ada masalah, asal berani dibawa ke bengkel resmi. Yang penting dicek status of health (SOH) baterainya,” ujar Arwani, kepada Kompas.com (18/12/2025). Arwani menegaskan, baterai dan sistem kelistrikan merupakan jantung dari sebuah mobil listrik. Selama kondisi SOH baterai masih dalam kategori baik dan tidak ditemukan error pada sistem kelistrikan, mobil listrik bekas tetap aman dan nyaman digunakan untuk aktivitas harian. Aion UT Karena itu, pengecekan di bengkel resmi menjadi langkah penting sebelum memutuskan membeli. Bagi konsumen pemula yang ingin merasakan pengalaman menggunakan mobil listrik, pasar mobil bekas bisa menjadi opsi menarik. Namun, Arwani mengingatkan agar calon pembeli bersikap realistis. Nilai jual mobil listrik memang cenderung turun lebih cepat dibanding mobil bermesin konvensional. Meski begitu, jika tujuan utamanya adalah penggunaan jangka panjang, kondisi baterai dan sistem tetap menjadi penentu utama umur kendaraan. Iluastrasi membeli mobil bekas “Tahun berapa pun terserah, sesuai bujet. Tapi yang jelas, cek dulu SOH baterainya. Itu yang utama. Kalau bisa SOH baterai masih mendekati 100 persen. Kalau mobil baru dua tahun biasanya masih 100 persen. Saya sendiri sudah lima tahun pakai, SOH masih 97 persen,” ucap Arwani. Ia juga menyoroti perbedaan penggunaan kendaraan yang berpengaruh besar terhadap daya tahan baterai. Mobil listrik bekas eks armada taksi, misalnya, umumnya mengalami penurunan SOH lebih cepat karena dipakai secara intensif. Sebaliknya, mobil listrik milik pribadi dengan pola pengisian daya yang tepat cenderung memiliki usia baterai lebih panjang. “Kalau bekas taksi biasanya lebih cepat turun karena dipakai berat. Tapi kalau pribadi dan cara ngecas benar, baterai bisa awet. Ada kawan yang pakai Hyundai Kona, jarang keluar kota, jarang pakai fast charging, setelah lima tahun SOH baterainya masih 100 persen,” kata dia. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang