- Seiring meningkatnya penggunaan pembayaran non-tunai dan layanan berbasis aplikasi, sistem parkir juga dituntut menjadi lebih cepat, transparan, dan terintegrasi dengan ekosistem transportasi perkotaan. PT Securindo Packatama Indonesia atau Secure Parking Indonesia menilai bahwa parkir tak lagi sekadar tempat kendaraan berhenti, tetapi juga jadi bagian dari pengalaman mobilitas masyarakat saat beraktivitas di kawasan perkotaan. Deputy General Manager Business Development Jabodetabek Secure Parking Indonesia, Ryan Rachmat, mengatakan bahwa pengalaman parkir sering menjadi kesan pertama dan terakhir ketika seseorang datang ke suatu tempat. Menurutnya, proses parkir yang tertib dan lancar dapat membuat pengunjung merasa lebih nyaman. “Parkir sering menjadi kesan pertama dan terakhir bagi pengunjung. Jika prosesnya berjalan rapi dan lancar, pengalaman mereka juga akan terasa lebih baik,” ujar Ryan dalam acara Media Gathering & Buka Puasa Bersama Secure Parking Indonesia yang digelar di Jakarta pada Rabu (4/3). Saat ini, pengguna cenderung menginginkan proses yang lebih praktis, minim antrean, dan menyediakan banyak pilihan pembayaran non-tunai. Deputy General Manager Business Development Regional Secure Parking Indonesia, Hendri, menjelaskan bahwa digitalisasi parkir tidak hanya soal penggunaan teknologi baru, tetapi juga perubahan dalam sistem operasional agar layanan menjadi lebih efisien dan transparan. “Digitalisasi dilakukan untuk memastikan proses parkir lebih tertib, transaksi tercatat dengan jelas, serta memberikan kenyamanan bagi pengguna,” jelasnya. Melalui sistem digital yang terintegrasi, proses kendaraan masuk dan keluar area parkir dapat tercatat secara otomatis. Selain itu, pembayaran kini dapat dilakukan dengan berbagai metode non-tunai seperti kartu elektronik hingga aplikasi pembayaran digital. Nah sebagai bagian dari pengembangan layanan, Secure Parking juga memperbarui sistem operasional parkir dari Epsilon Parking System menuju sistem terbaru bernama eNOS. Teknologi ini memungkinkan kendaraan dikenali secara otomatis melalui sistem License Plate Recognition (LPR) yang membaca pelat nomor kendaraan. Selain itu, pembayaran parkir juga dapat dilakukan menggunakan ponsel maupun berbagai perangkat pembayaran digital yang tersedia di area parkir. Sistem tersebut didukung teknologi tambahan seperti pembayaran menggunakan QR serta fitur Flap Lock yang memungkinkan pengguna melakukan pembayaran secara mandiri tanpa harus bertransaksi manual di pintu keluar. “Tujuan utama pengembangan sistem ini adalah membuat pengalaman parkir menjadi lebih praktis, cepat, dan transparan,” kata Hendri. Saat ini, teknologi eNOS sudah diterapkan di beberapa lokasi di Jakarta, seperti Plaza Indonesia dan PIK Avenue, serta mulai diperluas ke berbagai kota lain di Indonesia. General Manager Business Development Secure Parking Indonesia, Sofian Chandra, menjelaskan bahwa sistem pembayaran digital membuat seluruh transaksi tercatat secara otomatis. Dengan begitu, proses pengelolaan parkir menjadi lebih mudah dipantau oleh pengelola kawasan sekaligus memberikan kemudahan bagi pengguna. Saat ini Secure Parking telah mengintegrasikan berbagai metode pembayaran digital, mulai dari kartu elektronik, layanan perbankan berbasis server, virtual account, hingga berbagai platform e-wallet dan mobile banking. Memasuki tahun 2026, Secure Parking berfokus pada penguatan implementasi layanan parkir digital yang sudah berjalan. Deputy Managing Director Secure Parking Indonesia, Queenta Sylvia, mengatakan bahwa perusahaan tidak hanya menghadirkan inovasi teknologi, tetapi juga memastikan standar layanan dapat diterapkan secara konsisten di berbagai lokasi operasional. “2026 menjadi fase penguatan implementasi. Kami ingin memastikan sistem yang sudah berjalan mampu memberikan pengalaman parkir yang stabil dan konsisten bagi pengguna,” ujarnya. Sekadar info, Secure Parking sendiri saat ini mengelola sekitar 1.700 lokasi parkir digital di berbagai jenis properti, mulai dari pusat perbelanjaan, perkantoran, rumah sakit hingga fasilitas publik.