Daytime Running Light (DRL) kini menjadi salah satu fitur yang hampir selalu hadir pada mobil-mobil baru. Lampu yang menyala pada siang hari tersebut bahkan kerap dijadikan identitas desain oleh masing-masing pabrikan. Namun DRL bukanlah teknologi baru. Fitur keselamatan ini sudah digunakan pada mobil produksi massal sejak puluhan tahun lalu dan terus berkembang hingga menjadi standar di banyak negara. Secara fungsi, DRL dirancang untuk meningkatkan visibilitas kendaraan pada siang hari, bukan untuk menerangi jalan seperti lampu utama atau headlamp. Dengan adanya DRL, kendaraan lebih mudah terlihat oleh pengguna jalan lain sehingga dapat membantu mengurangi risiko kecelakaan, terutama di persimpangan maupun saat cuaca kurang mendukung. Lampu DRL Sudah Lama Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, penggunaan DRL sebenarnya sudah umum dijumpai di sejumlah negara sejak akhir 1970-an. "Dari zaman saya sekolah sampai kemudian bekerja di sana, saya sempat dua kali tinggal di luar negeri," ungkap Jusri kepada Kompas.com, yang dikonfirmasi belum lama ini. "Waktu saya masih sekolah, sekitar akhir 1970-an atau awal 1980-an, mobil-mobil di sana sudah menggunakan DRL. Berarti sudah sekitar 40 tahun yang lalu," katanya. Menurut Jusri, ketika kembali bekerja di luar negeri pada dekade 1990-an, penggunaan DRL bahkan sudah menjadi hal yang lumrah pada berbagai model kendaraan. "Terus waktu saya kembali bekerja di sana pada tahun 1990-an, penggunaan DRL sudah umum," katanya. "Bahkan sekitar tahun 1995 atau 1996, di negara yang kecil saja di Amerika, mobil-mobil seperti Toyota maupun Honda Accord dua pintu yang saya pakai sudah dilengkapi DRL otomatis," ungkapnya. Ilustrasi lampu DRL di mobil Terus Berkembang Secara historis, DRL pertama kali diperkenalkan oleh Saab pada 1977 melalui kendaraan prototipe untuk pasar negara-negara Nordik (Eropa Utara), agar mudah terlihat di siang hari. Selanjutnya, Volvo menjadi salah satu produsen pertama yang menerapkan DRL sebagai fitur standar pada mobil produksi massal melalui Volvo 240 pada 1984. Perkembangan DRL semakin pesat setelah Kanada mewajibkan seluruh mobil baru menggunakan fitur tersebut pada 1990. Kemudian, Uni Eropa juga memberlakukan aturan serupa untuk seluruh mobil penumpang baru yang memperoleh persetujuan tipe mulai 7 Februari 2011. Perlu diketahui, DRL pada awal kemunculannya belum menggunakan lampu LED seperti sekarang. Saat itu, sistem ini masih memanfaatkan lampu halogen atau lampu utama yang menyala dengan intensitas lebih rendah. Pada akhir 2000-an, teknologi LED mulai digunakan sebagai DRL karena lebih hemat energi, memiliki usia pakai lebih panjang, sekaligus mampu menjadi identitas visual sebuah merek kendaraan. Honda City 2017 menggunalan LED pada lampu depan dan DRL. Indonesia Di Indonesia, penggunaan DRL mulai dikenal luas sekitar 2011 hingga 2013. Sejumlah pabrikan mulai mengadopsi lampu LED DRL sebagai bagian dari desain eksterior mobil. Beberapa model yang turut memopulerkan penggunaan LED DRL di Tanah Air antara lain Audi A4 B8, Ford Fiesta facelift, Honda CR-V generasi keempat, Toyota Yaris facelift, dan Mazda CX-5 generasi pertama. Meski kini tampil sebagai bagian dari desain kendaraan modern, fungsi utama DRL tetap tidak berubah, yakni meningkatkan visibilitas kendaraan pada siang hari agar lebih mudah dikenali pengguna jalan lain. Namun DRL bukan pengganti lampu utama. Pada malam hari, hujan lebat, atau memasuki terowongan, pengemudi tetap harus menyalakan lampu utama karena DRL tidak dirancang untuk menerangi jalan. Selain itu pada sebagian mobil, lampu belakang juga tidak menyala ketika hanya DRL yang aktif sehingga penggunaan lampu utama tetap diperlukan demi menjaga keselamatan berkendara.