Sepulang dari Jogja, saya bebaskan istri mencoba Suzuki Fronx seharian penuh di Bogor. Dan setiap kali mesin dihidupkan, “ruang control” sudah seperti kokpit pesawat. Setiap kali itu pula, istri takjub. Matanya mengintip dari balik setir. Bolak-balik ia memastikan suasana di engine cluster. “Sayang…, Fronx ini memang banyak banget lampu indikatornya?” Lampu menyala satu per satu. Ikon bermunculan dari berbagai arah. Indera perasa bersiap siaga, kamera sekejap aktif. Radar mulai membaca situasi sekitar bahkan sebelum mobil bergerak keluar parkiran. Ada sesuatu yang menarik dari cara Suzuki memperkenalkan Fronx kepada pengemudinya. Mobil ini tidak langsung bicara soal tenaga, torsi, atau suara mesin. Yang pertama kali diperlihatkan justru kewaspadaan yang berujung pada fungsi keamanan dan kenyamanan. Seperti RCTA, Lane Assist, Stability Control, Steering Assist, Auto Brake, dan Adaptive Cruise. Bahkan simbol kecil yang mungkin tidak semua orang pahami tetap hadir, seolah memberi tahu bahwa ada sistem lain yang sedang berjaga di balik dashboard. Semua itu muncul hanya dalam beberapa detik setelah tombol start ditekan. Dulu, menyalakan mobil terasa sepi. Lampu oli menyala sebentar, indikator aki muncul, lalu selesai. Fronx terasa berbeda. Bahkan sebelum pedal gas disentuh, mobil ini sudah mengecek marka jalan, memantau area belakang, membaca kemungkinan kendaraan lain lewat dari samping, lalu menyiapkan koreksi kemudi apabila diperlukan. Mirip ponsel di genggaman kita. Penuh notifikasi, banyak sensor, dan selalu siaga terhadap kemungkinan terburuk. Menariknya lagi, semua itu hadir pada sebuah Suzuki, merek yang selama bertahun-tahun identik dengan kesederhanaan mekanikal. Kami berdua punya pikiran berbeda namun satu rasa. Istri mengira Suzuki tak punya teknologi bejibun. Suami merasa harga segitu masih kalah dari kompetitor. Ternyata kami salah. Karena yang dilakukan Suzuki Fronx sebenarnya cukup agresif untuk kelas harganya, terutama varian SGX yang sudah membawa paket ADAS lumayan lengkap di sekitar Rp 319 jutaan (cek di: auto.suzuki.co.id/cars/fronx). Di antara pesaing Fronx, beberapa mobil memang punya ADAS (Advanced Driver Assistance System). Merupakan teknologi canggih pada mobil yang dirancang untuk membantu pengemudi, meningkatkan keselamatan, dan memberikan kenyamanan berkendara melalui sensor, kamera, dan radar Mari kita cek yang paling dekat: • Daihatsu Rocky Rocky ADS punya A.S.A (Advanced Safety Assist), dan harganya bisa lebih murah dari Fronx. Tapi fitur Lane Keeping dan Adaptive Cruise tidak selengkap Fronx SGX. • Toyota Raize Punya Toyota Safety Sense pada tipe tertentu. Namun paketnya juga belum seramai Fronx SGX. • Honda WR-V WR-V RS Honda Sensing sebenarnya sangat kompetitif. Bahkan banyak orang merasa tuning ADAS Honda lebih natural. Tapi harga tipis-tipis mendekati Fronx kelas atas. • Chery Tiggo Cross Ini salah satu yang sering disebut punya fitur lebih brutal dibanding Fronx untuk harga serupa atau sedikit di bawahnya. Bahkan di komunitas Reddit Indonesia, ada yang bilang ADAS Tiggo Cross “lebih lengkap dibanding Fronx”. Tapi bayangkan, kompetitor itu sudah hidup nyaman selama ini. Datang lebih duluan. Lalu sekejap setelah Fronx muncul, cluster ini mendadak super sibuk. Suzuki tiba-tiba masuk ke dunia yang sebelumnya bukan identitas mereka. Sebagaimana kita tahu, Suzuki sejak dulu identik dengan mobil sederhana, ringan, irit, dan minim drama elektronik. Lalu tiba-tiba Fronx datang membawa radar, monocular camera, lane assist, ACC, RCTA, blind spot monitoring, HUD, sampai belasan fitur ADAS aktif. Makanya banyak car reviewer menyebut Fronx sebagai “Suzuki Indonesia tercanggih”. Oleh karena itulah, lead foto artikel ini terasa sentimentil. Sebab yang kita lihat sebenarnya bukan sekadar dashboard, melainkan Suzuki yang sedang mencoba menjadi merek yang jauh lebih aware terhadap pengemudinya dibanding generasi sebelumnya. Ini sih namanya, suami istri sama-sama salah soal Suzuki Fronx.