Layanan bus Transjakarta memasuki usia ke-22 tahun pada 15 Januari 2026. Sutiyoso, Gubernur DKI Jakarta periode 1997–2007 yang dikenal sebagai penggagas bus Transjakarta, turut mengenang perjalanan awal sistem Bus Rapid Transit (BRT) tersebut. "Transjakarta lahir dari kebutuhan Jakarta akan sistem transportasi massal yang terjangkau, manusiawi, dan berkelanjutan. Tantangannya kini adalah bagaimana terus beradaptasi dengan kebutuhan generasi muda," ujar Sutiyoso pada acara diskusi bersama KPBB yang diadakan secara virtual, Senin (19/1/2026). Kehadiran Transjakarta saat itu merupakan gebrakan Sutiyoso dalam mengubah pola mobilitas masyarakat Jakarta. Ide tersebut menurutnya lahir karena transportasi publik yang dapat diandalkan dapat mengatasi permasalahan-permasalahan di Jakarta saat itu, yakni kemacetan, polusi, serta ketimpangan akses transportasi. Sebagai informasi, pria yang akrab disapa Bang Yos itu menjabat Gubernur DKI Jakarta selama dua periode, yakni 1997–2002 dan 2002–2007. Saat itu, di masa kepemimpinannya, Jakarta dalam kondisi yang tidak mudah setelah mengalami kerusuhan pada Mei 1998. Hal ini turut berdampak besar terhadap Jakarta, baik secara fisik maupun sosial. "Kerusuhan 1998 bukan hanya merusak infrastruktur, tapi juga mengubah mental masyarakat. Jakarta berada dalam situasi sosial yang sangat berat," kata Bang Yos. Kemudian, ia juga menceritakan bahwa pada saat itu DKI Jakarta tidak memiliki sumber daya alam seperti daerah lain. Transjakarta sebagai pilihan moda transportasi publik di DKI Jakarta Namun, pada periode kedua kepemimpinannya, kondisi fiskal Jakarta mulai membaik sehingga Sutiyoso mulai memikirkan solusi untuk mengatasi kemacetan parah Jakarta. Lalu dirinya membuat kajian bersama para akademisi dan pakar transportasi dari berbagai perguruan tinggi untuk mengatasi permasalahan-permasalahan kemacetan. "Dari kajian tersebut ditemukan bahwa komposisi pengguna transportasi Jakarta tidak ideal. 80 persen kendaraan pribadi dan hanya 20 persen angkutan umum, kebalikan dari kota-kota besar dunia," katanya. Setelah itu, dirumuskan konsep pilihan transportasi Jakarta yang terdiri dari empat moda utama, yakni MRT, monorel, busway, dan jalan tol (motorway). Akan tetapi, karena keterbatasan dana dan minimnya kepercayaan investor membuat pemerintah harus memilih salah satu moda transportasi saja. "Dari semua moda, hanya busway yang bisa dimulai tanpa investor, karena jalannya sudah ada," kenang Sutiyoso. Dari sana, koridor Blok M–Kota dipilih sebagai jalur pertama debut Transjakarta di Ibu kota. Terminal Senen, lokasi pemberhentian bus Transjakarta dekat Stasiun Pasar Senen, Senin (1/12/2025). Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang