Menikmati perjalanan selama 80 tahun di belahan dunia, Vespa bukan lagi sekadar alat transportasi roda dua biasa. Skuter ikonik asal Italia ini telah menjelma menjadi simbol gaya hidup, seni, dan budaya berkendara yang melintasi berbagai generasi. Namun, di balik keindahan lekuk bodinya yang abadi hingga sekarang, tersimpan berbagai fakta unik dan sejarah menarik saat pertama kali skuter ini dirancang pasca-Perang Dunia ke-2 pada tahun 1945. Irvan Henrianto, Technical Training Manager PT Piaggio Indonesia, membagikan kisah menarik ini di sela-sela perayaan ulang tahun Vespa yang ke-80 di Jakarta. Vespa 80th Anniversary resmi meluncur di Indonesia Filosofi Desain: Gambar Orangnya Dulu, Baru Motornya Jika produsen otomotif pada umumnya mendesain bentuk sepeda motor terlebih dahulu baru memikirkan posisi duduk pengendaranya, Vespa justru melakukan hal yang sebaliknya. Sang insinyur perancang, Corradino D'Ascanio, memulai proyek progetto della Vespa dengan menggambar postur tubuh manusia terlebih dahulu saat sedang duduk santai berkendara. Setelah gambar manusia itu selesai, barulah ia menarik garis luar untuk mendesain rangka motor di sekelilingnya. "Filosofi kita memang berbeda. Kita bikin dulu orangnya, digambar dulu, setelah itu baru dilanjutkan merancang motornya. Jadi ketika kita naik Vespa, pengendara akan selalu berada tepat di tengah-tengah kendaraan tersebut," ujar Irvan, Selasa (26/5/2026). Kaka Slank saat riding bersama komunitas Vespa di Kota Malang, Minggu (19/4/2026). Ramah Pengendara Wanita Latar belakang penciptaan Vespa didasari oleh hancurnya pabrik Piaggio di Pontedera akibat serangan udara tentara sekutu pada Perang Dunia ke-2. Italia saat itu sangat membutuhkan kendaraan harian yang praktis, murah, dan bisa dipakai oleh siapa saja untuk membangun kembali mobilitas mereka. D'Ascanio kemudian merancang motor tanpa "tulang tengah" atau dek backbone yang tinggi. Rangka monokok dengan dek lantai yang rata (step-through) sengaja diciptakan demi kemudahan akses berkendara. "Coba bayangkan kalau desain motor saat itu ada tulangnya di tengah, kaum perempuan yang memakai rok pasti akan sangat kesulitan untuk naik. Makanya dibuatlah desain dek rata agar praktis dan mudah digunakan oleh siapa saja, termasuk wanita," kata Irvan menjelaskan. Peraih medali SEA GAMES 2025 Basral Graito Hutomo (18) saat meluncur menggunakan papan skate melompati vespa di jalanan depanrumahnya, Desa Tohudan, Colomadu, Karanganyar, Kamis (18/12/202). Asal-Usul Nama "Vespa" yang Berarti Tawon Nama "Vespa" yang mendunia hingga saat ini ternyata lahir secara spontan dari ucapan Enrico Piaggio, anak dari pendiri perusahaan, Rinaldo Piaggio. Ketika melihat purwarupa pertama motor berkode MP6 selesai dibuat, Enrico mengamati bentuk fisiknya secara saksama. Ia melihat bagian jok penunggangnya yang ramping, bagian bodi belakang yang menggemuk lebar untuk menutupi mesin, serta bagian ekor atau lampu belakang yang kembali menyempit. Begitu mesin dua tak berkapasitas 98 cc dinyalakan dan mengeluarkan suara garing yang khas, Enrico langsung berceletuk spontan. "Beliau melihat desainnya lalu berkata, 'Sembra una vespa!' yang artinya 'Kelihatan seperti tawon'. Karena bentuk belakangnya montok seperti tawon dan suaranya mendengung mirip serangga tersebut, akhirnya nama Vespa segera dipatenkan dan dipakai hingga hari ini," kata Irvan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang