Perjalanan mudik jarak jauh dengan mobil pribadi menuntut kondisi pengemudi tetap prima selama berkendara. Selain memastikan kendaraan dalam kondisi baik, pengemudi juga perlu memperhatikan posisi duduk yang benar agar tidak cepat lelah dan tetap fokus di jalan. Posisi duduk yang tidak tepat dapat menyebabkan tubuh cepat pegal, sirkulasi darah terganggu, hingga menurunkan konsentrasi saat menyetir. Sony Susmana, Director Training di Safety Defensive Consultant Indonesia, mengatakan bahwa posisi duduk yang benar sangat penting bagi pengemudi, terutama saat melakukan perjalanan mudik jauh. “Setelan duduk paling ideal adalah duduk sempurna. Dengan posisi tersebut, setelah menyetir selama 2–3 jam badan tidak akan cepat terasa pegal atau lelah,” ucap Sony kepada Kompas.com, Minggu (8/3/2026). Ilustrasi mengemudi Sementara, Founder & Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting, Jusri Pulubuhu mengatakan, duduk pengemudi yang aman dan tidak mudah kelelahan adalah dengan menempatkan posisi badan dengan menempelkan punggung ke sandaran belakang. Jusri mengatakan, dalam segala kondisi, punggung tidak boleh lepas dari back rest atau sandaran. “Caranya, atur reclining dari jok dengan menempatkan posisi tangan lurus ke bagian atas setir atau jam 12. Sementara punggung harus menempel ke back rest secara penuh,” kata Jusri kepada Kompas.com. Kemudian untuk bagian bawah atau maju mundurnya jok. Perhatikan, kaku tidak boleh terlalu menekuk karena bisa menghambat sirkulasi darah kita, sehingga cepat lelah. Pastikan kedua kaki bisa mencapai seluruh pedal jika manual. “Kalau mobilnya otomatis, maka kaki kiri harus bisa maksimal disenderkan ke foot rest yang ada,” kata Jusri. Selanjutnya, dalam posisi normal, kedua tangan harus menekuk setidaknya kurang lebih 35 derajat. Karena 35 derajat adalah posisi ergonomis saat stand by. Perlu diingat, posisi setir yang terlalu dekat dengan pengemudi bisa berbahaya. “Setir yang terlalu dekat akan menghambat gerakan saat pengoperasian kemudi. Saat terjadi kecelakaan juga akan menghambat letupan dari airbag, sehingga balon tidak menahan badan dengan baik,” kata dia. Sedangkan posisi yang terlalu jauh, membuat sulit mencapai setir secara maksimal. Saat ingin mencapai, punggung malah lepas dari back rest, padahal saat mengemudi harus tetap bersandar pada bagian jok yang bisa diatur kerebahannya. “Saat mengalami pecah ban, selip pada roda, bagian tubuh yang pertama merasakannya yaitu punggung, bukan pantat atau tangan. Selain itu di punggung memiliki ribuan saraf,” ucapnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang