Masyarakat kelas menengah digadang-gadang makin susah untuk membeli mobil baru. Kenaikan harga mobil yang tidak sebanding dengan kenaikan pendapatan masyarakat membuat banyak calon pembeli "angkat tangan".Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede menjelaskan kenaikan upah minimum maupun rata-rata gaji masyarakat kelas menengah tidak mampu mengejar kenaikan harga unit mobil yang melesat setiap tahunnya."Pendapatannya itu memang kalau kelas menengah itu,rata-rata setiap tahunnya mungkin naiknya 3,5 persen setiap tahun.Nah tapi kalau kita lihat harga mobil misalkan naiknya 5-7 persen," ujar Josua Pardede di Jakarta, Jumat (6/3/2026). Dia melanjutkan pasar otomotif Indonesia masih sangat bergantung pada mobil dengan harga "terjangkau". Sekitar 70 hingga 80 persen pasar otomotif Tanah Air memang terkonsentrasi di rentang harga di bawah Rp 300 juta."Jadi artinya memang ini,jangan heran bahwa kalau misalkan 70-80 persen pasar otomotif Indonesia,itu terkonsentrasi di harganya pasar hingga 300 juta.Itu yang mungkin paling laku gitu ya," ungkap dia.ironisnya, segmen LCGC yang berada di garda terdepan harga murah justru mengalami penurunan penjualan. Joshua menilai hal ini adalah imbas langsung dari kelas menengah yang sedang "turun kelas".Berdasarkan data wholesales Gaikindo, LCGC hanya terdistribusi sebanyak 122.686 unit pada sepanjang 2025, minus 31 persen dibanding 2024. Padahal di kuartal pertama 2025, mobil murah ini sempat berjaya dengan rata-rata pengiriman di atas 12 ribu unit per bulan. Namun memasuki kuartal kedua hingga akhir tahun, distribusinya merosot di angka 8-9 ribuan unit saja.Sementara itu, data retail menunjukkan, penjualan LCGC hanya mencapai 130.799 unit. Torehan tersebut turun 27 persen dibandingkan perolehan tahun 2024 yang mencapai 178.726 unit."Penjualan LCGC ini kan turun, dan ini tadi karena efek dari kelas menengah yang mengalami penurunan," jelasnya.Pada Oktober 2024, Badan Pusat Statistik melaporkan jumlah kelas menengah di Indonesia turun menjadi 17,13% dari proporsi masyarakat di Indonesia. Total kelas menengah di Indonesia sebanyak 46,85 juta jiwa. Angka itu tercatat mengalami penurunan sejak 2019, di mana saat itu proporsinya 21,45% atau berjumlah 57,33 juta jiwa. Kemudian pada 2021 juga mengalami penurunan menjadi 19,82% atau 53,83 juta penduduk.Dulu, orang datang ke showroom mungkin masih bertanya soal fitur, kenyamanan, atau desain. Namun sekarang, trennya sudah berubah total. Konsumen datang bukan lagi sekadar bertanya mobilnya bagus atau tidak."Masyarakat atau konsumen ini datang ke showroom, bukan hanya bertanya mobilnya bagus atau enggak. Tapi juga dia menghitung juga, cicilannya dia akan kuat atau enggak," ujar dia.