Berkendara di jalan raya tidak cukup hanya dengan memperhatikan kendaraan yang berada tepat di depan. Pengemudi juga perlu membaca pergerakan kendaraan lain di sekitar untuk mengantisipasi potensi bahaya sebelum situasi berkembang menjadi kecelakaan. Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan, terdapat sejumlah metode yang dapat digunakan pengemudi untuk mengenali potensi bahaya di jalan. “Ada banyak metode seperti, Search, Identify, Predict, Decide, Execute (SIPDE), Search, Evaluate, Execute (SEE), dan Hazard Identification, Risk Assessment, Determining Control (HIRADC),” ucapnya kepada Kompas.com, baru-baru ini. SIPDE merupakan metode yang dilakukan dengan mencari dan mengenali potensi bahaya, memperkirakan apa yang mungkin terjadi, menentukan tindakan, kemudian melaksanakannya. Ilustrasi berkendara dengan Changan Deepal S07 Sementara SEE menekankan tiga tahapan, yakni mencari potensi bahaya, mengevaluasi risiko yang mungkin terjadi, lalu melakukan tindakan yang diperlukan. Adapun HIRADC dilakukan dengan mengidentifikasi bahaya, menilai tingkat risikonya, kemudian menentukan langkah pengendalian untuk mengurangi risiko tersebut. "Jadi secara garis besar, cara melihat potensi bahaya itu melalui proses. Dari proses melihat obyek, memperkirakan kemungkinan bahaya, mempersiapkan langkah antisipasi, sampai dengan bereaksi," kata Sony. Hal senada disampaikan Training Director The Real Driving Center (RDC) Marcell Kurniawan, mengatakan, ada sejumlah kebiasaan yang dapat membantu pengemudi membaca potensi bahaya dari kendaraan lain. "Jaga jarak aman, pandang jauh ke depan, perhatikan lingkungan 360 derajat, minimalisir blind spot, perhatikan pergerakan kendaraan lain," kata Marcell. Selain itu, pengemudi perlu memperhatikan area di samping dan belakang kendaraan melalui spion. Tujuannya agar kendaraan lain yang berada di sekitar, termasuk yang masuk ke area blind spot, tetap dapat terpantau. Menurut Marcell, salah satu cara sederhana untuk melatih kemampuan tersebut adalah selalu berpikir dengan prinsip "what if". Artinya, pengemudi perlu membayangkan kemungkinan yang dapat terjadi dari kondisi yang sedang dihadapi. Jadi, membaca potensi bahaya dari kendaraan lain bukan sekadar melihat, tetapi juga memahami pergerakannya, memperkirakan kemungkinan yang terjadi, dan menyiapkan tindakan untuk mengantisipasi risiko di jalan.