V-belt pada CVT sepeda motor matik merupakan komponen penting yang berfungsi menyalurkan tenaga dari mesin ke roda. Seiring pemakaian, komponen ini akan mengalami keausan dan perlu diganti secara berkala. Tak hanya meneruskan putaran, rasio percepatan juga ditentukan oleh peran kombinasi puli primer dan sekunder yang terhubung oleh v-belt. Pada kondisi yang sudah parah, v-belt bisa putus di jalan saat motor dioperasikan. Maka dari itu, penting untuk servis berkala dan menggantinya tepat waktu. Agus, Service Advisor Ahass Cawas Klaten mengatakan umumnya usia pakai v-belt bisa sampai 25.000 kilometer selama dirawat dengan baik dan motor dioperasikan dengan benar. “Salah satu tanda paling mudah dikenali adalah kondisi fisik v-belt. Jika terlihat retak-retak pada permukaan bagian dalam, itu menandakan karet mulai getas dan kekuatannya menurun,” ucap Agus kepada KOMPAS.com, Sabtu (11/4/2026). Selain retak, munculnya serabut atau benang dari dalam v-belt juga menjadi indikasi kerusakan serius. Kondisi ini menunjukkan bahwa struktur internal sudah mulai terurai dan berisiko putus. Ilustrasi CVT pada motor matik. Perubahan ukuran juga perlu diperhatikan. V-belt yang sudah aus biasanya mengalami penipisan, sehingga cengkeramannya terhadap puli berkurang dan kinerjanya tidak optimal. Permukaan v-belt yang terlihat mengkilap atau licin juga merupakan tanda keausan. Hal ini terjadi akibat gesekan berlebih yang menyebabkan sabuk sering mengalami slip. “Sabuk yang terbuat dari karet ini mulai kehilangan sifat elastisitasnya, sehingga bila disentuh teksturnya menjadi keras, menandakan dia sudah getas, dan mudah putus,” ucap Agus. Ilustrasi roller CVT motor matik Dari sisi performa, gejala pertama yang sering dirasakan adalah tarikan awal yang terasa berat. Motor menjadi kurang responsif saat digas, terutama dari posisi diam. Getaran saat berjalan pelan juga bisa menjadi tanda v-belt bermasalah. Getaran ini biasanya muncul karena distribusi tenaga tidak merata akibat slip pada sabuk. “Tenaga motor cenderung menurun, terutama saat melewati tanjakan. Mesin mungkin terdengar meraung, tetapi laju kendaraan tidak sebanding dengan putaran mesin,” ucap Agus. Suara tidak normal seperti desisan dari area CVT juga patut diwaspadai. Bunyi ini umumnya berasal dari gesekan yang tidak wajar antara v-belt dan puli. Kesimpulannya, tanda v-belt harus diganti dapat dilihat dari kondisi fisik dan performa motor. Dengan mengenali gejala sejak dini dan melakukan penggantian tepat waktu, risiko kerusakan lebih besar dapat dihindari. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang