Diklaim dapat menawarkan efisiensi tinggi meski punya tugas yang berat, penggunaan truk listrik di area pertambangan makin gencar dipromosikan. Chief Executive Officer Astra UD Trucks, Bambang Widjanarko mengatakan, pihaknya sedang menyiapkan hal ini dengan mempertimbangkan beberapa hal. "Truk listrik itu baterainya itu besar sekali. Jadi kemarin ada beberapa tambang yang sudah mulai ada trial coba, tapi kan infrastrukturnya harus disiapkan. Yang jadi masalah adalah kalau di tambang harus ada power plant-nya, tidak semua tambang punya power plant," kata Bambang, pekan lalu. Lebih lanjut, Power plant sendiri merupakan fasilitas industri yang digunakan untuk menghasilkan energi listrik. Bambang menyebutkan, kalau tidak ada kesiapan power plant akan kesulitan menggunakan truk listrik di tambang. Krusial Sebab fasilitas ini merupakan hal krusial bagi kendaraan listrik. Bila digambarkan posisinya seperti SPBU bagi kendaraan konvensional. Maka akan timbul kebingungan bagaimana cara untuk mengisi daya listrik truk tersebut jika setiap tambang tidak punya power plant. "Karena kalau tidak siap bagaimana swap baterainya, ngecas-nya gimana? Baterainya ukurannya besar bisa 2 ton beratnya. Kalau pakai sistem swap untuk angkat baterainya harus pakai alat berat. Lalu pengisian dayanya pun power plant-nya harus besar, nah tambang belum semuanya siap soal itu," katanya. Truk Quester di booth UD Trucks pada GIIAS 2025 Bambang juga menjelaskan, secara produk UD Trucks sudah punya portofolio truk listrik di Jepang. Bahkan prototype truk listrik tersebut pernah dipamerkan pada salah satu pameran otomotif di Jepang beberapa tahun yang lalu. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang