Di tengah perlambatan pasar mobil nasional dalam beberapa tahun terakhir, kinerja PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) dinilai masih mampu tumbuh. Diversifikasi bisnis, mulai dari pasokan komponen OEM hingga bisnis aftermarket, menjadi salah satu faktor yang menjaga performa perusahaan. Berdasarkan laporan riset CLSA, Astra Otoparts membukukan pendapatan sebesar Rp 19,9 triliun sepanjang 2025 atau tumbuh 4 persen secara tahunan. Sementara laba bersih naik 8 persen menjadi Rp 2,2 triliun, sekaligus menjadi rekor tertinggi perusahaan. Pemaparan Astra Otoparts pada acara Astra Media Day 2025 di Menara Astra, Jakarta Selatan, Selasa (23/9/2025). Pencapaian tersebut dinilai cukup positif mengingat pasar mobil domestik masih mengalami tekanan dalam tiga tahun terakhir. Di saat yang sama, penjualan sepeda motor juga belum sepenuhnya pulih. Menurut CLSA, ketahanan Astra Otoparts berasal dari struktur bisnis yang seimbang. Sekitar 51 persen pendapatan berasal dari bisnis manufaktur komponen, sedangkan 49 persen lainnya berasal dari bisnis perdagangan atau aftermarket. Dari sisi pelanggan, sekitar 61 persen penjualan berasal dari grup Astra dan sisanya dari produsen non-Astra. Memasuki 2026, tren pertumbuhan tersebut masih berlanjut. Pada kuartal pertama, pendapatan perusahaan naik 7 persen, sementara laba bersih meningkat 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Permintaan Kendaraan Niaga dan EV Meningkat CLSA menilai perbaikan pasar mobil nasional menjadi salah satu faktor yang mendorong kinerja Astra Otoparts. Permintaan kendaraan niaga meningkat seiring bergulirnya berbagai proyek pemerintah, disusul peluncuran model-model baru dan meningkatnya minat terhadap kendaraan elektrifikasi. Perusahaan juga mulai memperluas pasar dengan memasok komponen untuk sejumlah merek mobil listrik asal China, seperti BYD, Jaecoo, dan VinFast. Di sisi lain, kebijakan pemerintah yang menargetkan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) menjadi 60 persen pada periode 2027-2029 diperkirakan akan membuka peluang lebih besar bagi industri komponen lokal. Meski begitu, kontribusi kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) terhadap bisnis Astra Otoparts masih relatif kecil. Saat ini, volume terbesar justru berasal dari kendaraan hybrid, baik model Toyota seperti Kijang Innova Zenix Hybrid, Yaris Cross Hybrid, dan Veloz Hybrid, maupun Suzuki Fronx Hybrid. Tidak hanya memasok komponen, Astra Otoparts juga mengembangkan ekosistem kendaraan listrik melalui jaringan pengisian daya Astra Otopower. Hingga Maret 2026, perusahaan telah mengoperasikan 65 stasiun pengisian daya ultra-fast charging di berbagai wilayah Indonesia, melengkapi lini bisnis wall charger Altro dan kerja sama dengan PLN untuk pengembangan charger yang dipasang di tiang listrik. Ilustrasi Astra Otoparts Kenaikan Harga Bahan Baku Jadi Tantangan Di tengah pertumbuhan bisnis, Astra Otoparts masih menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya bahan baku. Perusahaan secara bertahap telah menyesuaikan harga kepada pelanggan OEM sejak tahun lalu, dipicu oleh kenaikan harga aluminium, material berbasis minyak seperti plastik, serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang memengaruhi sekitar 20-30 persen biaya produksi. Namun, penyesuaian harga kepada produsen kendaraan tidak bisa dilakukan secara instan. Prosesnya umumnya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga enam bulan hingga berlaku efektif. CLSA juga mencatat ruang kenaikan harga untuk pelanggan OEM relatif terbatas karena perusahaan harus tetap menjaga daya saing. Sebaliknya, bisnis aftermarket memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam melakukan penyesuaian harga. Meski demikian, Astra Otoparts tetap berupaya mempertahankan pangsa pasar sejumlah produk andalannya, termasuk aki GS Astra yang menguasai hampir 60 persen pasar domestik.