- Terjadi anomali di Australia saat terjadi krisis energi yang terjadi imbas konflik di Timur Tengah. Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Negeri Kangguru tersebut justru turun. Ini karena Pemerintah Australia memutuskan untuk memangkas 50 persen pajak BBM di tengah krisis energi yang terjadi imbas konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Harga minyak mentah kini melampaui 116 dollar AS (Rp 1.798.000) per barel. Dalam konferensi pers di Canberra, Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyebut pajak bahan bakar akan dipotong setengah mulai 1 April hingga 30 Juni 2026 sebagai bentuk respons terhadap tekanan finansial akibat kenaikan harga energi. Artinya, harga bensin di Australia turun 26,3 sen Australia (Rp 2.700) per liter sehingga pengendara bisa menghemat hampir 19 dollar (Rp 294.500) untuk tangki berkapasitas 65 liter. "Kami memahami tekanan biaya yang dirasakan masyarakat sangat nyata, karena dampak perang di belahan dunia lain terasa hingga ke sini. Kami bertindak sekarang agar lebih siap menghadapi situasi," ungkap Albanese dilansir dari Al Jazeera, (30/3/26). Dalam sepekan terakhir, harga rata-rata solar serta bensin di lima kota terbesar Australia masing-masing naik 10 persen dan 8 persen. Kendati Australia merupakan eksportir besar batu bara dan gas alam, negara ini masih mengimpor sekitar 80 persen kebutuhan bahan bakar olahannya dari luar negeri.