Pemerintah akan menerapkan sistem satu hari kerja dari rumah (work from home) dalam sepekan. Bahkan, menurut informasi yang diterima, surat edarannya bakal terbit sebentar lagi. Lantas, seberapa jauh dampak kebijakan itu terhadap penghasilan ojek online alias ojol?Ketika aturan WFH benar diterapkan, maka permintaan ojol di Indonesia tentu akan menurun. Menurut Ketua Umum Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, situasi tersebut membuat penghasilan 'pasukan hijau' drop hingga 30 persen. "Tidak dipungkiri akan adanya penurunan pendapatan pengemudi ojol saat diberlakukannya WFH 2026 ini," ujar Raden Igun Wicaksono kepada detikOto, dikutip Kamis (26/3)."Menurut perkiraan kami akan ada dampak berupa penurunan pendapatan dengan kisaran 10-30% dari pendapatan normal, yang akan terdampak pada sektor ride hiling atau layanan penumpang," tambahnya.Ketua Umum Asosiasi Pengemudi Ojek Online Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono. Foto: Taufiq Syarifudin/detikcomSituasi itu, kata Igun, tentu tak baik untuk keberlangsungan hidup ojol di Indonesia. Itulah mengapa, agar sama-sama diuntungkan, pemerintah diminta mencari solusi lain."Hal ini yang harus dicarikan solusi dari berbagai pihak terkait, berkurangnya pendapatan hingga 30% akan menjadi beban bagi keluarga para ojol," tuturnya.Menurut Igun, situasi sejenis sebenarnya bukan hal baru untuk driver ojol di Indonesia. Sebab, ketika pandemi, mereka juga harus ikhlas penghasilannya rontok imbas kebijakan WFH."Diberlakukannya WFH, bagi pengemudi ojol, bukanlah hal yang baru karena tahun 2020-2022 pengemudi ojol sudah pernah menghadapi krisis pandemi COVID-19 yang pada saat tersebut WFH 100% diberlakukan, sehingga pengemudi ojol akan lebih adaptif dengan situasi krisis," kata dia.Diketahui, pemerintah berencana menerapkan kebijakan WFH selama satu hari dalam sepekan setelah Lebaran 2026 sebagai langkah efisiensi BBM di tengah gejolak global.Kebijakan itu merupakan tindak lanjut arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang menekankan pentingnya hemat energi, terutama saat situasi Timur Tengah belum kondusif hingga berdampak pada harga minyak dunia.