Booth Yamaha di IMOS 2024 Memasuki awal 2026, pemilik sepeda motor di sejumlah daerah perlu bersiap mengeluarkan biaya tambahan. Pemicunya adalah pemberlakuan opsen atau pajak tambahan kendaraan bermotor yang kabarnya akan mulai diterapkan oleh beberapa pemerintah daerah. Opsen ini berpotensi menambah beban kepemilikan sepeda motor karena dikenakan di luar pajak kendaraan bermotor yang sudah ada. Dampaknya bisa langsung dirasakan pemilik motor, mengingat pajak tahunan merupakan kewajiban yang tidak bisa dihindari.Kekhawatiran tersebut ikut disoroti pelaku industri sepeda motor. Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) berharap kebijakan opsen tidak menekan permintaan pasar yang selama ini relatif stabil. “Kalaupun ada kenaikan opsen, kami berharap dapat diberikan juga insentif dengan tidak menaikkan pajak kendaraan sehingga dampaknya tidak berpengaruh ke permintaan konsumen,” ujar Ketua Bidang Komersial AISI, Sigit Kumala, dikutip VIVA Otomotif dari keterangan resmi, Senin 12 Januari 2026.Isu opsen menjadi penting karena sepeda motor masih menjadi moda transportasi utama masyarakat. Setiap kebijakan yang menambah biaya berpotensi berdampak luas, terutama bagi pengguna roda dua untuk aktivitas ekonomi harian. Sigit mengungkapkan, bahwa sepanjang 2025 penjualan sepeda motor domestik tercatat mencapai 6.412.769 unit. Berdasarkan data AISI, angka tersebut tumbuh 1,3 persen dibandingkan periode Januari–Desember tahun sebelumnya. Stabilnya pasar motor terjadi di tengah pelemahan daya beli yang sempat dirasakan masyarakat. Kondisi ini menunjukkan sepeda motor masih menjadi alat transportasi yang paling efisien dan efektif. “Rata-rata per bulan penjualan sepeda motor domestik di angka 535.000 unit. Ini menggambarkan sepeda motor memang sangat dibutuhkan karena efisien dan efektif dipakai untuk memenuhi kebutuhan ekonomi maupun untuk leisure dan gaya hidup masyarakat kita,” kata Sigit.Dari sisi segmen, skutik masih mendominasi pasar sepeda motor nasional. Sepanjang 2025, kontribusinya mencapai 91,7 persen, disusul motor underbone 4,46 persen dan motor sport 3,51 persen, sementara motor listrik masih di bawah 1 persen.AISI juga mencatat peran penting industri pembiayaan dalam menjaga stabilitas pasar. Sekitar 65 persen pembelian sepeda motor dilakukan secara kredit, sehingga memudahkan masyarakat di tengah keterbatasan daya beli.“Tahun lalu diwarnai penurunan daya beli terutama di masyarakat ekonomi menengah dan mereka memilih membeli sepeda motor untuk menopang kegiatan ekonomi produktif mereka,” ucap Sigit. Menurutnya, kondisi ini membuat pasar tetap tumbuh meski tidak besar.Memasuki 2026, AISI melihat pasar sepeda motor domestik masih memiliki potensi, meski dibayangi berbagai tantangan. Selain opsen, faktor geopolitik global, harga komoditas, kondisi cuaca, dan pertumbuhan ekonomi dinilai dapat memengaruhi daya beli masyarakat.Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, AISI memproyeksikan pasar sepeda motor domestik tahun ini relatif stabil. “Kami memproyeksikan pasar sepeda motor domestik akan berada di kisaran 6,4 juta hingga 6,7 juta unit,” ujar Sigit.